Iqro’ bismi rabbika al-ladzi kholaq, membaca apakah? Tidak ada keterangan maf’ul bih (obyek)-nya. Itulah membaca konteks kehidupan agar kita menemukan kekaguman demi kekaguman dari ciptaan-ciptaan Allah. Sehingga setiap hari istighfar, tasbih, tahmid, dan takbir kita kian berisi dan bermakna.

Quran dahulu diwahyukan kepada Rasulullah langsung menghujam dalam hati. Lalu sahabat mendengarkannya dari lisan Rasulullah yang mulia, lalu menghujam pula dalam hati mereka. Hari ini, peradaban pendengaran bergeser ke peradaban penglihatan yang penuh dengan tipu daya. Mayoritas kita gagal memahami kasunyatan, dan sibuk berdebat soal teks tanpa mengerti apa pun yang kita baca, dengar, dan ucapkan.

Ensiklopedia, software, dan apa pun yang kelihatannya memudahkan untuk belajar tidak akan berarti apa-apa jika tak ada adab dan akhlak dalam mengawal proses mengenal kitabullah itu. Maka tak heran perdebatan dan cela mencela menjadi dominan seperti sekarang, karena luapan kesombongan merasa paling tahu dan paling benar atas yang lain.

Surakarta, 21 September 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.