Identitas Islam sebagai kekuatan politik efektif ketika posisi umat masih menjadi minoritas. Pada posisi ini, militansi pengusung identitas Islam akan sangat bermanfaat untuk menunjukkan sisi yang beda sebagai umat Islam.

Tetapi ketika umat Islam telah menjadi mayoritas dan sesama umat Islam saling berkompetisi untuk meraih kursi kekuasaan, wacana identitas justru membahayakan umat Islam sendiri. Akan lebih baik jika wacana yang diusung adalah masalah-masalah riil yang dihadapi umat, seperti kemiskinan, penindasan ekonomi akibat kapitalisme, dan tentu saja masalah lingkungan.

Umat Islam perlu belajar banyak dari perseteruan segitiga antara khalifah Ali dan pendukungnya, Muawiyah dan pendukungnya, serta kaum Hururiyah (Khawarij) pada masa-masa kacau di zaman akhir kekhalifahan. Sendi-sendi persatuan umat yang awalnya dibangun dengan keadilan akhirnya porak-poranda dengan adanya adu kekuatan. Hingga akhirnya kelompok Muawiyah-lah yang menang. Sejak itu, kehidupan umat Islam dibangun dengan supremasi kekuasaan, bukan lagi syura seperti yang telah diasaskan Nabi di masa masih hidup.

Catatan tarikh sebenarnya sangat gamblang menceritakan ketika Kerajaan Umayah mulai berkuasa, rakyat tidak berani mengadu kepada penguasa seperti di zaman Abu Bakar, Umar, dan Utsman tentang ketidakadilan penguasa. Jika di zaman ketiga khalifah itu, seorang penguasa wilayah bisa dicopot hanya gara-gara aduan beberapa orang rakyatnya yang menuntut keadilan, di zaman kerajaan Umayah sekelas Abdullah bin Zubair, sang penguasa Mekah pada zaman itu yang menentang kediktatoran Damaskus pun diganjar dengan serangan besar-besaran yang membuat kepalanya dipenggal dan diarak ke seluruh penjuru negeri. Tak hanya itu, ka’bah juga ikut hancur, meskipun nanti dibangun kembali oleh penguasa baru yang pro kerajaan Umayah.

Belum lagi tentang kisah pembantaian Husain di Karbala yang hingga hari ini, kisah pilu itu terus diperingati oleh orang Syiah dengan ritual penyiksaan diri. Itu adalah kisah bagaimana oposisi diberangus habis ketika mereka menyuarakan tuntutan keadilan kepada penguasa yang sedang bertahta. Demikianlah pahitnya ketika perang saudara melanda kehidupan umat Islam. Umat yang awalnya sangat perkasa dengan keadilannya, akhirnya meneruskan jejak umat-umat terdahulu yang menuhankan kekuasaan di atas sendi-sendi keadilan. Sayangnya, patron kekuasaan itu justru dijadikan landasan sejarah umat Islam dan tak jarang disebut-sebut bahwa era Kerajaan Abbasiyah dianggap sebagai era kejayaan Islam. Padahal kejayaan Islam ya ada pada zaman ketika Nabi dan sahabat masih hidup.

Sekarang, umat Islam selain menghadapi masalah riil berupa kemiskinan, ketertindasan ekonomi oleh kapitalisme global, dan persoalan lingkungan yang parah, juga harus menerima kenyataan adanya persaingan identitas di antara sesama mereka. Munculnya gerakan-gerakan Islam yang lebih menonjolkan identitas masing-masing membuat umat Islam menghabiskan energinya untuk perkara-perkara simbolik semacam itu hingga mereka tak pernah kompak untuk mengatasi persoalan kemiskinan, penindasan ekonomi oleh kapitalisme global, dan mengatasi persoalan lingkungan yang ada di hadapan mereka mulai dari sampah rumah tangga, limbah industri, penggundulan hutan, dan perubahan iklim. Bahkan umat Islam di Indonesia harus menghadapi bencana paling parah dalam sejarah, yaitu pemilu 2019. Sebuah bencana demokrasi yang paling tidak bermutu, tetapi begitu menyita perhatian umat Islam di negeri ini. Na’udzubillah.

Coba renungkan, siapa pun Presiden yang terpilih di 2019 nanti, umat Islam akan menjadi pihak yang paling rugi jika mereka terus berkonflik tanpa henti soal dukung mendukung pilpres. Sementara para kapitalis tetap happy menyambut tahun 2019 dengan aneka produk-produk baru yang siap dijajakan kepada umat Islam yang jangankan membuat industri mandiri, wong membuat jaringan ekonomi tertutup saja tidak mampu. Siapa pun Presiden yang terpilih, konflik akan terus berlanjut di antara para pendukung militan keduanya. Lalu apa iya, kita akan ikut-ikutan rempong bersama kaum “hard-core” semacam itu? Sementara di sekitar kita, kemiskinan makin banyak seiring tumbuhnya kelas menengah baru, umat kian menjadi konsumen saja tanpa kedaulatan produksi, dan yang paling mengenaskan adalah gunung-gunung sampah meningkat diiringi sungai-sungai yang limbahnya begitu pekat. Jadi, bagaimana kita akan memiliki kebanggaan sebagai seorang muslim, sementara kenyataanya kita tak mampu membawa Islam yang rahmatan lil alamin? Masak iya tiap cerita ke orang, selalu bilang, “dulu umat Islam pernah berkuasa dan menerangi dunia”. Kalau nanti ketemu “Itu dulu, sekarang umat Islam itu miskin, emosian, dan ketinggalan di segala bidang. Bahkan kamu itu mengelola sampahmu sendiri saja nggak bisa.” mau dibantah dengan apa?

Surakarta, 31 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.