Sistem Pendidikan Pesantren dan Taman Siswa adalah dua model pendidikan khas Indonesia yang telah terbukti dan teruji membuat gerah para penjajah kolonial. Anehnya, kedua model pendidikan itu mulai dari sejarah hingga kurikulumnya tidak pernah dikaji dalam satu mata kuliah di berbagai program studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Jadi tidak perlu muluk-muluk bermimpi untuk tumbuh menjadi bangsa besar jika setelah Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 sampai hari ini kita masih menerapkan sistem pendidikan kolonial. Sejak dari kelas I SD hingga kuliah, kita sistem pendidikannya saja sudah terjajah. Bahkan sekarang satu persatu pesantren dipaksa untuk menerapkan sistem pendidikan modern dan Taman Siswa satu persatu mulai ditutup.

Hanya orang-orang yang mati hati jika melihat fenomena BUNUH DIRI NASIONAL seperti ini tidak sedih apalagi tidak punya upaya untuk melakukan perlawanan. Bukankah hancurnya sistem pendidikan, ibarat alarm kehancuran bagi yang lainnya. Bagaimana kita punya pemimpin yang berakar dari rakyat jika intelektualitas mereka berkiblat ke Barat. Bagaimana kita punya harga diri dan bisa berdikari jika sistem ekonominya saja ikut Barat dan gaya hidup kita konsumtif serba ke-Barat-Barat-an.

Ini bukan status pesimis, tapi status realistis untuk mengingatkan kita semua jika memang masih punya bakti kepada leluhur. Seandainya ada reuni para leluhur bangsa, mungkin leluhur Nusantara saat ini akan diolok-olok oleh leluhur bangsa lain karena anak cucunya tingkahnya sangat memalukan. Tidak hanya sekedar tidak mampu melanjutkan perjuangan, tetapi juga menginjak-injak warisan leluhurnya dengan meninggalkan prinsip hidup dan kepribadian demi meniru-niru bangsa lainnya yang dikiranya lebih beradab.

Semoga yang hari ini bangga menyebut dirinya sebagai guru diberi kesempatan untuk bermimpi ketemu Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, atau bahkan Kanjeng Sunan Kalijaga dan para waliyullah lainnya. Bila masih kurang semoga bertemu dengan Syaikh Ali Syamsuddin beserta Prabu Jaya Baya. Setidaknya ketemu sekali dan diberi ijazah agar hari-hari berikutnya memiliki japa mantra untuk mendidik generasi Indonesia lebih baik dari kenyataan yang memilukan hari ini.

Generasi hari ini semakin embuh wujudnya, wajah lokal tapi pikirannya semi Barat, semi Arab, dan semi-semi lainnya. Tidak utuh dan akhirnya kepalang tanggung bergerak kolektif sebagai sebuah bangsa besar. Tidak ada narasi besar yang diusung bersama, selain kepentingan pragmatis mereka sebagai agen Barat, agen Arab, agen China, agen macam-macam yang pada akhirnya tak lain hanya berujung pada pertikaian satu sama lain memperebutkan berbagai remah-remah kehidupan materi.

Juwiring, 14 November 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.