Orang Indonesia itu memiliki segala kemewahan hidup. Alam yang indah, biaya hidup yang murah (sak rekasa-rekasa urip neng kene, luwih kepenak ketimbang neng luar negeri), masyarakat yang toleran, dan kebudayaan yang menjamin kenyamanan hidup. Tapi satu yang kurang, karena saking kerasannya kita jarang pergi menengok sisi lain dari dunia luar.

Akibatnya lihat wajah-wajah asing didukung dengan strategi marketing yang distir oleh kapitalisme, masyarakat kita yang dahulu lugu dan kolektif mendadak menjadi aneh dan latah. Berbagai keanehan kebudayaan mulai terjadi di sekeliling kita. Misal kalau ada bule datang, mendadak kita rame-rame pengin foto bareng. Atau mulai timbul semacam inferioritas kebudayaan sehingga menganggap bahwa apa yang dibawa orang-orang asing terasa lebih keren dari pada kita.

Fenomena industri hiburan pun demikian. Selera pemirsa TV pun sepertinya bergeser. Wajah-wajah manca dan blasteran lebih diminati dari pada wajah lokal yang mencerminkan realitasnya sendiri. Entah awalnya bagaimana, tapi untuk sinetron produksi dalam negeri, masyarakat memilih wajah yang blasteran. Konon katanya lebih cantik atau lebih ganteng. Demikian pula selera entertainment lainnya. Maka tidak perlu heran jika yang copas-copas dari negara lain, di sini tersedia. Sekarang sudah lengkap mau cari dari negara mana semua sudah terwakili, tinggal pilih saja mau jadi penyuka entertainment negara mana.

Yang kemudian jadi salah satu topik pembicaraan adalah soal wajah para pemainnya. Konon, banyak yang mengatakan wajah pemain sinetron India, wajah pemain sinetron Turki, wajah pemain di Telenovela itu cantik dan ganteng. Saya dahulu mungkin juga akan tetap berpandangan seperti ini seandainya tidak berkesempatan tinggal untuk sementara waktu di luar negeri. Tapi setelah bisa merasakan kehidupan sosial di Eropa, saya mulai mengalami sebuah koreksi atas pemahaman yang kerap membuat kita inferior hingga salah satu outputnya merasa bahwa mereka lebih cantik dan lebih ganteng.

Jika anggapan bahwa artis India, Turki, Telenovela, Korea, dan sebagainya lebih cantik dari kita, cobalah berimajinasi datang ke negara-negara asalnya. Saya sendiri membuktikan ketika di Jerman bagaimana kuliah di dalam kelas di mana mahasiswanya didominasi oleh keturunan Arya, Turki, dan ras-ras eropa lainnya. Kalau saya masih menggunakan sudut pandang Inlander seperti yang saya sebutkan tadi, berarti saya berada di kelas artis dong. Lha gimana, mereka putih dan begitu semua. Masak saya harus ngempleng dan ngoweh lihat mereka. Belum lagi saat membuang sampah ke depan apartemen, tiba-tiba bertemu petugas sampah yang wajahnya juga mirip artis jika tetap menggunakan perspektif Inlander tadi.

Salah satu sisi keuntungan perjalanan itu bagiku yang masih jomblo adalah pelajaran tentang kecantikan. Setidaknya, usai perjalanan yang cukup spesial itu aku merefleksikan sebuah konsep kecantikan. Jika sebagai laki-laki hanya mengejar kecantikan fisik, maka celaka betul itu. Apalagi jika mentalnya Inlander, maka akan jadi aneh dan nggumunan saat lihat gadis Mesir yang begitu molek dan anggunnya. Jika ditanya apakah aku sempat kagum awalnya, ya jelas lah. Bagaimana tidak ngempleng lihat wajah ayu gadis Arya, Turki, Mesir, dan berbagai ras yang berkulit putih dan sebelumnya belum pernah kusaksikan selama di tanah air. Tapi pada akhirnya kusimpulkan bahwa hal semacam ini hanyalah relatif. Seandainya saya bertahun-tahun tinggal di tempat seperti itu pasti juga akan dilanda kebosanan dengan wajah yang oleh orang sini dikagume sampai ngoweh-oweh.

Akhirnya, wajah dan kecantikan itu dua hal yang seharusnya diidentifikasi sendiri-sendiri. Karena jika dipahami menjadi satu, maka ia akan menjadi sangat materialistik. Padahal wajah itu fisik/ materi, sementara kecantikan adalah hal bersifat rohani.

Jika hari ini, cara pandang masyarakat kita kok lebih suka wajah bule dengan anggapan lebih cantik dan lebih ganteng, sadarilah bahwa kita sedang terjajah oleh materialisme. Dan saya yakin tidak hanya dibagian itunya, di dalam cara bekerja, cara berpikir, hingga cara membangun kehidupan saat ini kita mulai mengikuti tata kelola materialisme dan mengabaikan hal-hal yang bersifat rohani. Akibatnya ….. silahkan dilanjutkan sendiri.

Surakarta, 9 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.