Bahasa itu akan terjaga dari aksara dan perilaku kebudayaannya. Jika aksara Jawa tidak dipelajari dan unggah-ungguh masyarakat Jawa mulai ditinggalkan, maka suatu saat bahasa ini ya akan hilang, minimal akan terdistorsi dari masa keemasannya.

Ini juga berlaku dalam hal pengamalan Islam. Narasi Quran dan hadits itu akan terdistorsi dari masa keemasannya manakala dunia literasi serta adab dan akhlak ditinggalkan. Teks Quran boleh saja ada, teks hadits boleh saja ada, tapi tanpa budaya literasi yang tulus dari tiap generasi yang dihiasi dengan kemuliaan adab dan akhlaknya maka, kemuliaan cahaya Islam itu akan tertutupi.

Paling nggak sekarang udah kerasa kan, kamu mau cerita Islam itu bla bla bla bla …… dengan mudah dimentahkan dengan berbagai argumentasi aktual. Lalu kita akhirnya marah dan mencak-mencak, makin buramlah wajah Islam karena perilaku yang tidak Islami semacam itu.

Jadi sebagai generasi Islam abad ini, apa yang sudah kita lakukan untuk berperan dalam proses yang Allah tetapkan takdirnya ini? Islam dan Quran itu memang dijaga langsung oleh Allah, tapi dia memberikan kesempatan kepada manusia ambil bagian di dalam proses penjagaan itu. Jadi jangan khawatir Islam akan lenyap, khawatiri saja jika kita itu tidak dapat bagian apa-apa atas kesempatan gemilang ini. Apalagi hilang kesempatan karena sibuk patroli urusan pribadi orang lain.

Surakarta, 8 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.