Dari Perang Antar Penguasa Hingga Era Modal

Umat Islam banyak yang kurang jeli melihat realitas politik sepeninggal Utsman bin Affan. Dikiranya zaman itu adem ayem khilafahnya kayak imajinasi hizbut tahrir.

Padahal, setelah wafatnya beliau dunia Islam dilanda perang saudara. Dialog antar kekuasaan sangat jarang terjadi. Isinya perang dan perang. Yang kuat menghabisi yang lemah. Silih berganti.

Tapi beruntung, yang berperang cuma para elit yang terobsesi kekuasaan, plus para tentara mereka. Sesekali rakyat mungkin ikutĀ terlibat, tetapi tidak selalu demikian. Lebih banyak yang mencari cara agar tidak jadi mainan para penguasa.

Menariknya, zaman itu ulama gigih mengajarkan nilai-nilai agama, yang sesungguhnya sangat sejalan dengan fitrah kemanusiaan. Mereka tidak gentar menghadapi para penguasa. Sehingga umat selalu memiliki kebanggaan pada Islam sekalipun hidup di zaman penguasa lalim.

Hari ini, raja yang lalim dalam arti fisik sudah tidak ada, sebab semua sudah berjalan dalam sistem kapitalisme global. Pertarungan bergeser dari kekuasaan politik ke kekuasaan kapital. Sehingga kekuasaan politik hanya sarana mencapai kekuasaan kapital. Artinya jika kekuasaan kapital sudah jalan, maka kekuasaan politik tinggal diautopilotkan.

Di saat umat Islam disedot kapitalnya habis-habisan, para elit penguasanya masih melanjutkan perang dengan sesamanya yang sudah sejak 14 abad itu, bahkan sering bersekutu dengan yang mereka sebut “kafir” untuk memenangkan pertarungan. Para ulamanya juga ikut-ikutan nimbrung di kontestasi itu. Padahal para ulama zaman dulu, sebisa mungkin menghindarkan umat dari perang saudara itu.

Kita sebagai rakyat dan bagian dari bangsa ini seharusnya sedih lihat keributan menjelang pilpres ini. Apalagi kedua calon presiden itu adalah calon-calonnya oligarki. Kan rakyat rugi kuadrat. Wong nggak dukung aja pasti bakal diplekotho sama oligarki, ini malah ndukung mati-matian hingga terbelah suasana hatinya.

Surakarta, 1 Maret 2019

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses