Adanya channel/akun resmi di media sosial memudahkan kita menemukan rujukan terpercaya dan menghindari sop-sop buntut.

Misalnya akun resmi Akhyar TV untuk mendokumentasikan kajian Ust. Adi Hidayat, akun resmi CakNun.Com untuk mendokumentasikan kegiatan dan karya Cak Nun dan Kiai Kanjeng, akun resmi Tafaqquh untuk mendokumentasikan kajian ust. Abdul Somad, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pelajaran pentingnya, setiap gerakan kebaikan harus didukung dengan dokumentasi yang rapi. Kebutuhan sumber daya manusia yang telaten mengurus kebaikan semacam ini, saya kira jauh lebih urgen ketimbang ikut menjadi timses kampanye. Porsinya harus lebih banyak dibandingkan yang jadi timses.

Mengawal seorang tokoh, mendokumentasikan kajiannya, mengedit video, mengunggah videonya dan mengelola akunnya butuh militansi yang tinggi. Sebab tidak etis menuntut bayaran kepada sang tokoh, seperti bekerja di perusahaan. Beda dengan menjadi tim sukses kampanye yang sejak awal saya kira sudah dianggarkan besar-besaran untuk tujuan kekuasaan itu.

Selanjutnya adalah tugas kita sebagai masyarakat umum untuk disiplin dalam merujuk sumber-sumber tersebut. Kalau ada saudara-saudara kita yang hobi mengkonsumsi sop buntut dari akun-akun unduluwus di medsos, kita bantu arahkan ke akun resmi. Kita bantu laporkan akun-akun unduluwus dan postingan mereka yang rusak dan tidak baik agar mendapatkan blokir atau peringatan dari penyedia layanan. Asal kita kompak secara massal, jumlah konten buruk dapat ditekan.

Selama masih manusia, insya Allah arahan-arahan baik kita akan saling diterima. Tapi kalau sudah terperangkap dalam zona kecebong dan kampret, maka pertama-tama perlu diruqyah dari sihir luar biasa itu. Sebab jin saja merasuki manusia tidak sampai seperti itu. Lha ini sihirnya udah nyari mau 5 tahun mengendalikan akal sehat. Kurang mengerikan apa sihir pilpres ini? Na’udzubillah min dzalik.

Surakarta, 10 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.