Dududu, ini adalah hari-hari yang melelahkan pikiran kita. Ketika luapan emosi menjadi kabut yang menutupi akal sehat. Ketika prioritas tak lagi jelas, karena dikangkangi nafsu eksistensi. Ketika Islam ditutupi oleh kebodohan dan label-label yang diaku-akukan sebagai Islam, padahal bukan.

Inilah era sihir, era kegelapan, kegelapan yang bergemerlapan karena dipenuhi fantasi dan aneka ilusi. Dan rakyat jelata macam kami hanya bisa deg deg sir setiap saat, karena kami tak sabar untuk membuka tabir kehadiran sang imam kami, yang dijanjikan oleh Nabi junjungan kami. Katanya dia akan datang ketika dunia sudah dipenuhi sihir Dajjal.

Kami terus bertadabbur dan membuka telinga lebar-lebar, kalau-kalau dia telah datang. Jangan berharap pers akan meliputnya, apalagi ada tayangan televisi. Karena televisi akan memberitakan “Sang Juru Selamat” lain yang nanti akan diikuti mayoritas manusia. Ini pertaruhan keyakinan pribadi, karena ukuran orang banyak tidak lagi bisa diikuti.

Bukankah Islam akan kembali kepada kondisi asingnya? Dan setiap kita mulai mengklaim sebagai yang asing dalam bendera masing-masing. Apa seperti itu parameternya? Di era kegelapan ini, kami hanya berharap bahwa Dia mengizinkan diri-diri kami memendarkan cahaya karena setitik cinta yang masih tersisa di hati kami.

Ngawen, 16 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.