Sistem jejaring informasi global yang terlanjur diadopsi secara buta oleh masyarakat kita, khususnya umat Islam memang bikin repot kita sendiri. Solusi untuk masalah ini sebenarnya simpel, tinggalkan seluruhnya dan bikin sendiri atau gunakan seperlunya dan untuk yang bermanfaat saja. Tapi masalahnya kedua pilihan itu tidak akan dapat dilakukan kecuali oleh masyarakat yang memiliki kedaulatan atas pikirannya.

Sayangnya, sudah sejak puluhan tahun silam generasi bangsa ini (termasuk saya) dijebak dalam dunia takhayul dan klenik modern. Sehingga cara pandang yang begitu takhayul ini memandang dunia spiritualistik sebagai klenik dan mistik dan tidak mampu membedakan lagi mana dimensi tauhidi dan mana dimensi syirik, semua digebyah uyah dengan sudut padang modern yang juga tak kalah takhayulnya.

Maka tidak perlu heran jika hari ini banyak orang shalat tapi tetap banyak yang korupsi, banyak sekali yang berhaji tapi masalah sosial umat tak kunjung selesai, banyak kajian agama, bahkan sembarang informasi agama berceceran di internet tapi justru malah makin meruncing permusuhannya, bahkan lembaga-lembaga ilmu semakin banyak tapi tak menghasilkan solusi yang fundamental atas problematika umat.

Ya karena memang tidak ada hubungannya. Orang shalat, ya shalat saja, korupsi urusan lain. Orang haji, ya haji saja, masalah sosial urusan lain. Orang ngaji, ngaji saja, yang penting bisa masuk syurga sendirian, peduli amat sama orang lain. Orang kuliah ya kuliah saja biar bisa kerja lalu kaya, soal problem bangsa itu mah urusan politisi. Ini kan yang kita serang alami. Kita teriak-teriak tolak sekulerisme tapi kita sendiri masih begitu khusyu’nya menjadi kaum sekuler. Makanya juga tidak perlu kaget, di tengah duka akibat kecelakaan pesawat masih ada orang yang “kober” selfie.

Takhayul dan klenik modern telah hampir berhasil menghancurkan pranata nilai dan struktur bangunan spiritual masyarakat Islam yang dahulu dijaga para waliyullah selama berabad-abad. Karena gagasan modern memang bagian dari propaganda materialisme. Materialisme adalah akidah baru yang sepertinya memang satu-satunya lawan terkuat Islam hari ini. Ia dapat berwajah garang di satu tempat, tapi jadi sangat religius di tempat lainnya. Kontennya boleh bawa-bawa Islam, tapi belum tentu akidahnya benar-benar Islam.

Tidak ada yang salah dengan produk-produk modern semisal komputer, internet, dan smartphone, karena ia hanya alat. Silahkan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi metodologi berpikir kita yang dikuasai oleh takhayul dan klenik modern sebagai produk dari akidah materialisme sungguh sangat berbahaya. Dan efek dari akidah ini memproduksi manusia-manusia mesin yang kalau dalam dunia industri ia dieksploitasi layaknya mesin produksi, di dunia bisnis mereka seperti hewan ternak yang konsumtif, dan dalam dunia sosial keagamaan mereka menjadi sangat fanatik buta sekaligus taklid buta.

Maka metode tazkiyatun nafs hari ini sangat diperlukan untuk menyembuhkan umat Islam yang terserang penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) secara akut. Kembali ke pola hidup sederhana, berkecukupan, dan mandiri dengan produk-produk sendiri adalah satu-satunya pilihan hidup terbaik di antara semua pilihan yang baik. Bukankah Rasulullah dan sahabat utama juga demikian?

Sudahlah, mari kita “modern”-kan cara berpikir kita dengan Islam. Kegemilangan peradaban ada pada masyarakat yang spiritualistik dan mencintai ilmu, bukan pada materi. Bukan pula pada kaum yang suka rebutan kekuasaan.

‪#‎RenunganJumatPagi

Surakarta, 3 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.