Sejak zaman imperialisme-kolonialisme dijalankan di tanah Nusantara ini, kaum petani adalah kaum yang paling “tertindas” karena mereka dihisap secara zalim, dirampas hak kehidupannya oleh lurah hingga Gubernur Jenderal, dari zaman kolonial hingga zaman NKRI hari ini.

Dan dari situ saya sadar betapa mulianya para petani yang hari ini tetap menjalankan tugas Ketuhanan tersebut, yakni bermesra dengan bumi-Nya ketika kebanyakan manusia berubah pikirannya seperti kalkulator dan berubah perilakunya seperti robot.

Terima kasih ya Allah, Kau ilhamkan kepada kami kesadaran untuk menghormati para petani. Sebagaimana engkau bangkitkan kebesaran Islam dari kaum petani di Madinah. Mereka yang memberi angin segar baru bagi kaum Muhajirin. Dan dari filosofi pertanian inilah kehidupan manusia seutuhnya dibangun.

Karena hidup itu tentang menanam. Siapa yang menanam dan menjaga apa yang ditanamnya, lalu menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang punya tanah, tanaman, dan hak atas tumbuhnya “tanaman” itu, maka itulah semulia-mulianya manusia di muka bumi.

Juwiring, 1 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.