Hidup itu adalah tentang perjalanan. Kita diberi hamparan jalan (sabil). Kita juga diberi akal agar bisa memahami shirath (arah perjalanan) dan memilih caranya (thariqah). Dalam prosesnya kita juga diberi rambu-rambu lalu lintasnya (syariat).

Saya pernah menganut pemikiran bahwa menjalani hidup itu adalah dengan naik kendaraan secara kolektif. Tapi saya jumpai di dalam kendaraan itu ada banyak masalah, sopirnya kadang-kadang seenaknya sendiri, penumpangnya kadang bertengkar, bahkan kendaraannya sendiri bermasalah.

Sampai suatu saat saya mendapati keyakinan bahwa Kanjeng Nabi itu selama hidupnya tidak mengajari kita yang ruwet-ruwet dalam menempuh perjalanan itu. Beliau hanya menunjukkan shirath-nya dan menjelaskan syari’atnya yang sangat global. Beliau sendiri menjalaninya sehingga kita bisa menirunya sebagai thariqah.

Jarak perjalanan kita dengan Kanjeng Nabi dan sahabatnya saat ini sudah terlalu jauh. Tapi sabil, shirath, syariat, dan thariqahnya masih bisa kita kenali, asal kita benar-benar mencari. Cuma, karena ini zaman modern, kita diiming-imingi berbagai kendaraan yang “memudahkan”. Tentu saja kendaraan itu ada pemimpinnya, dan kita harus taat padanya, termasuk membayar tarifnya. Banyak di antara kita yang ikut juga.

Sampailah kita dihadapkan pada peristiwa rebutan pengemudi, percekcokan sesama penumpang, dan abai pada kendaraan. Sehingga bukannya perjalanan menuju shirath berjalan dengan baik, justru perjalanan dihambat oleh masalah-masalah internal semacam itu. Belum lagi jika ada kendaraan lain yang menyalip, penumpangnya pun menjulurkan lidah sambil mengejek. Pertengkaran penumpang antar kendaraan tidak terhindarkan. Itulah yang terjadi hari ini.

Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa ini eranya kita harus jalan kaki atau bersepeda saja. Prinsipnya adalah gunakan tenaga sendiri, syukur-syukur bisa dilakukan bersama-sama. Kapan lelah kita bisa berhenti, dan bisa saling membantu tanpa harus terkena masalah tambahan seperti ketika di dalam kendaraan. Sekaligus kita bisa ikut menjaga ketika ada penumpang atau sopir yang terlempar dari kendaraan, atau malah terjadi kecelakaan besar.

Peristiwa 2019 ini semakin meyakinkan saya. Sepertinya akan banyak terjadi kecelakaan kendaraan di jalan, atau setidaknya orang-orang yang terlempar dari kendaraan. Semoga kita yang berjalan kaki, bisa membantu menolong semampunya. Dan semoga mereka pun mau ditolong. Lalu kita sama-sama melanjutkan perjalanan.

Surakarta, 11 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.