Negara, parpol, bahkan para tokoh yang di-nabi-kan sekarang itu bisa bubar dan mati tanpa harus menunggu lama.

Tapi persoalan sampah, limbah, dan kerusakan lingkungan akan terus bergulir hingga sampai tiba waktunya Allah memerintahkan alam membereskan urusan ini. Ketika itu terjadi, manusia tidak memiliki pilihan lain, kecuali ikut binasa.

Saya tidak mengecilkan urusan politik dan kekuasaan, hingga festivalisasi cara agama. Tetapi jika karena urusan-urusan yang sangat pragmatis itu membuat kita lupa pada kondisi alam kita, yang berarti lupa dengan tugas kekhalifahan, lalu di mana bukti keimanan kita?

Sebelum Ramadhan, ada baiknya kita merenungi ritual-ritual ibadah kita yang sekarang cenderung hanya sekadar formalitas. Bahkan kalau dikalkulasi sampah dan limbahnya, bukankah seringnya justru kontradiktif dengan tujuan ibadah yang sesungguhnya. Dengan alasan beribadah, kita meninggalkan sampah tanpa diikuti tanggung jawab yang sungguh-sungguh.

Mari kita hitung sampah yang kita hasilkan setiap hari. Dari sampah yang fisik dulu, ada organik dan anorganik. Jika kita sudah mampu mengelolanya, semoga kita dimampukan untuk menghitung dan mengelola sampah non fisik, seperti sampah kata-kata, sampah pikiran, hingga sampah energi (akibat menyia-nyiakan waktu dan tenaga untuk perbuatan sia-sia).

Surakarta, 2 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.