Fungsi agama itu, agar kita selalu punya sandaran paling puncak ketika mentok, sudah tidak punya jalan keluar rasional lagi.

Tapi tidak berarti njuk malesan dan dikit-dikit njagakke tanpa usaha. Udah dikasih tempat tinggal di bumi yang subur, cuma rawan gempa. Malah bangunnya rumah yang kaku dan rawan ambruk karena kelenturannya rendah.

Giliran gempa beneran hingga rumah-rumah kita berantakan lalu bilang, kita kena azab. Siapa yang ngazab, wong sejak awal bangun rumah sudah salah hitungan kan. Masih banyak lagi hal-hal buruk yang menimpa kita akibat kesalahan kita sendiri.

Jika kita mau jujur, banyak hal yang belum kita lakukan dengan maksimal, tapi kita njuk GR dan mengucapkan doa yang semakna dengan doanya Nabi, “jika pasukan ini kau hancurkan, maka kau tak akan disembah selamanya.” Wong usaha aja belum maksimal, kok udah menuntut dan memfetakompli Tuhan.

Kebiasaan buruk kita, mulai dari salah memilih metode membangun komunitas, suka nyampah, hingga cara beragama yang dogmatis dan minim penggunaan akal sehat inilah yang mencelakakan kita. Sekali lagi, menurut saya itu bukan azab tuhan, tapi akibat logis dari kesalahan kita sendiri.

Untuk manusia sebodoh kita di zaman ini, Tuhan tidak perlu menurunkan azab. Wong kita setiap hari sangat suka mengazab diri sendiri kok. Justru Tuhan sangat pengasih dengan masih tetap membukakan aneka jalan keluar ketika kita kepepet. Untuk makhluk sekonyol manusia macam kita hari ini, lihat betapa pengasihnya Tuhan pada kita.

Surakarta, 3 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.