Kadang gatel pengin nulis tentang hal-hal yang di belakang layar: tentang penyelundupan senjata, penyelundupan narkoba, dan permainan adu domba yang memang banyak disetting.

Tapi, sepertinya tidak baik. Semoga bangsa Indonesia baik-baik saja ke depannya. Walaupun ada banyak masalah di belakang layar yang cukup mengerikan, tapi semoga di sana tetap banyak orang baik yang berusaha membendung bahayanya.

Sebagai warganet biasa, saya akan sering nulis yang nylekit-nylekit saja soal politik. Sebagai rakyat, saya mengajak sesama rakyat untuk merahasiakan dukungan politik demi terciptanya ketenangan. Biarkan timses yang kampanye semaksimal mungkin. Tugas rakyat cuma diam dan menyimak, kemudian memberi keputusan apakah memilih atau tidak memilih.

Yang penting, mari kita kelola sampah-sampah di rumah kita. Sampah organik dan sampah nonorganik harus bisa kelola agar yang terbuang keluar semakin sedikit. Sampah organik dikomposkan. Sampah nonorganik diolah sesuai tipenya. Yang plastik kering bisa dipadatkan menjadi ecobrick. Yang plastik basah bisa dicuci dan dikeringkan untuk diproses jadi ecobrik lagi. Yang kira-kira memang tidak bisa ditangani barulah dibuang keluar.

Persoalan sampah ini saya kira tidak bakal bisa dibereskan oleh keputusan politik macam apa pun. Sebab politikus itu mengurus diri mereka sendiri saja nggak bisa, apalagi mau mengurusi kita, apalagi sampah-sampah yang kita keluarkan. Jadi, silahkan berpartisipasi di pemilu dan pilpres. Tapi ingat, itu bukan urusan yang sebenarnya penting dalam hidup kita. Urusan penting dalam hidup kita adalah pengabdian pada Tuhan, ada ritualnya, ada pula tindakan riilnya. Mengelola sampah, adalah tindakan riil kita.

Meskipun kita dulu tidak pernah meminta adanya teknologi plastik dan limbah kimia yang berbahaya, tetapi saya kira kita akan ikut terseret dosa manakala kita tidak mampu mengelola hal-hal yang merusak ini setelah kita gunakan. Tapi kalau sekedar golput nggak milih, saya kira itu biasa-biasa saja. Sebab jika memang yang dipilih tidak ada yang layak, masak dipaksakan memilih. Tapi soal sampah, apakah kita memiliki pilihan untuk mengabaikannya? Saya kira tidak. Sampah itu kewajiban setiap kita, seperti halnya shalat fardhu. Jadi membuang sampah di tempatnya saja tidak cukup. Karena itu akan menjadi masalah lingkungan yang serius ketika terakumulasi.

Surakarta, 14 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.