Apakah di rumahmu sudah ada komposter dan ecobrick? Kalau belum mari kita mulai nyicil agar sampah yang dibuang ke lingkungan bisa berkurang.

Tidak apa-apa negara nggak beres-beres sampai 10-15, bahkan 50 tahun ke depan. Sebab itu masalahnya kompleks. Mending kita doakan agar para pelakunya diberi hidayah atau dipercepat panggilan pulangnya.

Tapi soal sampah saya kira ini fardhu ‘ain. Bahkan dampaknya dua kali lipat dari shalat fardhu. Sebab shalat itu manfaatnya personal. Mengelola sampah itu selain bermanfaat secara personal itu juga menjaga lingkungan (sekaligus bukti dari manfaat shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar).

Udah shalat fardhu kan? Alhamdulillah. Tinggal ditingkatkan lagi dengan manifestasi shalat secara sosial, salah satunya dengan mengelola sampah. Banjir, udara bau, dan seabreg masalah lingkungan salah satu penyebabnya adalah kita sendiri, yakni tidak bertanggung jawab atas sampah yang kita produksi setiap hari.

Insya Allah jika kesadaran sampah ini timbul, kita akan berani demo melawan pengusaha tambang yang telah mendeforestasi hutan dan industri yang limbahnya sangat mencemari lingkungan. Lingkungan alam itu lebih berhak dibela ketimbang politikus. Sebab alam tidak pernah mengkhianati kita. Sementara politikus, ngomongnya molah malih, kebijakannya juga banyak yang pilih kasih.

Politik hari ini menjadi begitu rumit sebab kita hanya berkutat pada kubangan dustanya. Coba kita berangkat dari persoalan lingkungan dan sosial, maka kita akan dapat gambaran yang sederhana tentang politik itu sendiri. Jika politik tak mampu menghasilkan sistem yang menjaga lingkungan dan kehidupan sosial, untuk apa kita memberi perhatian begitu serius padanya?

Surakarta, 6 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.