Kelompok-kelompok keagamaan itu kalau ikut-ikutan terjun ke politik praktis justru merusak kualitas pemilu. Sebab pemilu itu akan sehat jika kedaulatannya per gundul.

Lha kalau kelompok-kelompok keagamaan masuk lalu menggunakan senjata pamungkasnya berupa ancaman syurga dan neraka, maka gundul-gundul pun akan kehilangan kedaulatannya.

Lebih baik kelompok-kelompok keagamaan itu menyumbang hal-hal yang penting untuk perbaikan regulasi dalam demokrasi. Kelompok keagamaan memiliki basis massa yang besar kan. Gerakkan untuk mengepung gedung DPR/MPR agar anggota dewan mau melakukan amendemen konstitusi.

Amandemen yang diperlukan adalah bagaimana membonsai beberapa peran pemerintah yang terlalu besar saat ini serta menegaskan perbedaan negara dan pemerintah, serta mendefinisikan sistem perwakilan rakyat secara jelas sehingga ada kepastian hukum antara gundul-gundul para wakil rakyat dengan gundul-gundul rakyat yang diwakili.

Tapi, ya sudah lah. Fenomena merapatnya kelompok-kelompok keagamaan pada kekuasaan memang bukan hal baru. Dari zaman dulu pun sudah ada. Sebab kalau yang dirapati menang, lumayanlah dapat banyak jatah. Hal semacam ini pun pernah terjadi ketika kelompok madzhab X bersaing melawan kelompok madzhab Y agar madzhabnya diresmikan oleh sang penguasa.

Kelompok keagamaan itu justru akan dihormati dan tetap menjadi ancaman bagi kekuasaan ketika mereka tidak bersikap partisan dalam setiap perebutan kekuasaan. Mereka menjadi oposisi loyal bagi kekuasaan yang sah. Mengkritik keras hal-hal yang keliru dari penguasa, tetapi di saat yang sama mempertahankan legitimasi sang penguasa selama masih layak dipertahankan.

Di Indonesia, masih banyak politikus baik yang bisa didukung untuk berkuasa. Tetap di saat yang sama banyak juga politikus oligarki yang harus dikalahkan. Yang bisa mengalahkan oligarki tentu bukan para politikus itu, tapi sesungguhnya kekuatan kelompok-kelompok keagamaan yang memiliki basis massa besar di negeri ini. Dengan kekuatan massa yang besar, oligarki-oligarki yang berdana besar itu bisa dilawan.

Kalau mainnya recehan di politik praktis begini jadinya umat malah gelut sendiri-sendiri. Sebab elit-elit kelompok keagamaan A ndukung calon X. Di lain pihak, elit-elit kelompok keagamaan B ndukung calon Y. Padahal baik X dan Y adalah calon yang direstui para oligarki yang telah terbukti menyengsarakan rakyat baik di kelompok A maupun B. Kalau ini diteruskan, kerugiannya berlipat. Umat di kelompok A dan B akan terus bermusuhan dan nanti baik X atau Y yang jadi akan tetap menghisap masyarakat melalui tangan-tangan oligarkinya. Di situlah enegnya melihat persaingan kelompok-kelompok keagamaan.

Surakarta, 4 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses