Iki muk opiniku lho ya

Kebiasaan perang opini atas sebuah isu yang entah penting atau tidak yang tiba-tiba nongol di jejaring sosial menghilangkan sekian banyak kesempatan umat Islam untuk mempelajari apa yang seharusnya menjadi fokus mereka dalam beragama dan membangun kesatuan umat sebagai syarat dan ketentuan terpenuhinya janji nubuwah (penaklukan Yerusalem dan Roma).

Mayoritas situs yang menisbatkan diri dengan Islam kebanyakan juga ikut meladeni perang opini, sayangnya kemampuan jurnalistik para penulisnya kadang kurang diperhatikan sehingga justru makin menjadi bahan olok-olok. Maka tak heran Pak Adian Husaini pernah mengeluhkan, bikin media dan TV Islam itu gampang, tapi siapa SDM yang memenuhi kualifikasi untuk menjalankannya, yang visinya kokoh.

Kisah ini berulang seperti era pasca kemerdekaan di mana semua energi umat Islam difokuskan ke masalah politik dan hampir tidak memberi ruang untuk masalah sosial, kebudayaan, sejarah, bahasa, filsafat dll secara proporsional. Dan sudah tentu, debat masalah fikih yang tak ada habisnya. Akhirnya sosok sastrawan besar seperti Buya Hamka harus turun di segala tempat. Beruntung saat ini masih ada Emha Ainun Nadjib yang setidaknya masih bisa dibanggakan sebagai penyair, sastrawan, dan sosok serba bisa dari kalangan umat Islam. Itu pun banyak yang mengecap beliau sebagai orang liberal dan kiai mbeling.

Maka silahkan di cek dalam dokumen kesejarahan kita. Siapa tokoh penting di dunia filsafat Indonesia? Dari Jesuit. Siapa tokoh penting bahasa di Indonesia, perumus KBBI? Dari Jesuit lagi. Siapa tokoh sejarah penting di Indonesia? Dari Jesuit lagi. Maka pasca bung Karno dikudeta, Pak Harto memilih berseberangan dengan golongan Islam karena secara politik memang dipandang membahayakan saat itu, di sisi lain kita minim cendekiawan yang bergerak di segala bidang dibandingkan dengan para Jesuit yang sejak sebelum merdeka telah fokus di bidangnya masing-masing.

Maka jangan salahkan soal pendidikan kita yang kurikulumnya tidak jelas dan ilmu-ilmu yang diajarkan tidak karuan. Pertama, kita kan memang minim cendikiwan muslim saat kemerdekaan Indonesia saat kurikulum mulai dibangun, kebanyakan energi tersalurkan hanya untuk urusan politik. Kedua, kita semakin minim guru yang memiliki keberanian untuk otonom dan membangun kepribadian seperti para generasi terdahulu. Ketiga, lembaga-lembaga pendidikan semakin terjerat oleh aturan pemerintah. Sejauh ini lembaga besar yang masih berani jadi “negara sendiri” hanya PPM Darussalam Gontor, yang reputasinya mendunia dan menghasilkan tokoh-tokoh besar bangsa ini.

Sekarang, kenapa kita ga belajar dari kesungguhan mereka (Jesuit). Disaat umat Islam diberi kebebasan belajar seluas-luasnya seperti saat ini. Kenapa tiap hari mung pengin perang wae. Masalah beda carane sholat (padahal cuma beda madzhab) wis ra gathuk. Mung beda ormas ra gathuk. Kita akui saja bahwa kita masih punya kebiasaan buruk saling menyalahkan satu sama lain. Jadi memang kudu SABARRRRRRRRR untuk melahirkan generasi-generasi yang sanggup melunasi janji Nubuwah yang terakhir itu. Sabar, meh ngapa kowe? Ngamuk-ngamuk sambi takbir? Ya Allah nama agungmu digunakan untuk tindakan anarkis? Aku berlepas diri dari semua itu.

Surakarta, 10 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.