Obrolan sepele malam Kamisan dengan Anam Lutfi wingi menarik. Kadang kita tidak menyadari, bahwa pemikiran sekuler saat ini bahkan sudah menjangkiti diri sejak dari dalam masjid.

Indikasinya sederhana, meskipun ratusan kali kita shalat berjamaah, berapa kali kita merasakan kehadiran rasa hati sebagai satu umat yang benar-benar tidak basa-basi. Sekarang baru salaman saja ana sing mbid’ah2ke je, belum lagi kalau bertalaqqi dalam berbagai hal karena konsep “ulama” dan “ngaji” sudah dikurung sejumud-jumudnya dalam pengertian yang entah dulu dibikin siapa.

Maka jangankan mengkhalifahi politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan, wong mengkhalifahi diri sendiri aja nggak bisa. Apalagi mau mendirikan khilafah. Makanya ada benarnya nasihat simbah tahun 2009, umat Islam sudah banyak yang kehilangan anatomi nilai. Padahal nggak tahu anatomi tubuh saja itu tandanya orang sudah tidak tahu letak kepala, tangan, dan organ tubuh lainnya. Lha ini nggak punya antomi nilai (termasuk saya), makane jangankan bikin rumusan solusi, wong mengidentifikasi dan membuat pemeringkatan masalah aja masih gedabigan.

Sudahlah, sebelum terlalu jauh melabeli setiap orang yang berbeda pemikiran sebagai liberal dan sekuler, kita periksa dulu apakah kita tidak sekuler dan liberal. Maklum, era modern itu hanya bicara sudut pandang empirik dan materi (baca : duit). Maka agama pun bisa jadi bahan jualan baik lewat TV maupun organisasi. Makanya Kalau Kanjeng Nabi ngasih gambaran bahwa masa fitnah itu menggenggam kebenaran itu seperti menggenggam bara api, bahkan disuruh ngrokoti akar untuk bertahan, ya memang.

Dan nek dicermati tenanan, Nabi Muhammad itu memilih jadi Abdan Nabiyyan, hamba yang seorang Nabi. Jadi secara teknis di pemerintahan beliau itu cuma ibarat sesepuh yang menjadi rujukan segala sumber pertimbangan hukum, dan urusan kerukunan ditangani para kabilah. Mereka tidak bikin undang-undang tetek mbengek kayak sekarang, karena yang ditanamkan nabi adalah moral dan keadilan. Pusatnya dimana? Masjid. Dan di luar kesempatan itu nabi blusukan sebagai sahabat, bukan pejabat macam sekarang.

Maka saat ada jihad perang juga diserukan di masjid, bukan di kantor pemerintahan. Sengketa masalah juga diselesaikan di masjid. Hingga orang yang membutuhkan bantuan datangnya ke masjid. Mau berkilah karena rumahnya nabi di dekat masjid? Harusnya pertanyaannya tuh mengapa nabi memilih tinggal di samping masjid.

Jadi menurut saya, siapa pun pemerintahnya jika konsep yang simpel ini belum berhasil ditanamkan ke tengah umat secara kultural, maka bersabar teruslah. Politik memang mampu memperbaiki banyak hal, tapi ia juga sanggup menghancurkan lebih cepat. Maka umat Islam perlu melakukan diversifikasi peran, ojo kabeh sembarang uwong ndek politik kabeh. Sing politik ki nek iso sin ngelmu botohan (judine) wis paripurna karena dia harus bermain dengan tingkat resiko yang mengerikan.

Lha nek ijik junior tur goblok kayak aku, yo mlipir2 sinau sik sing akeh, karo latihan empati n berbagi lah. Latihan tirakat tahan ngelih, latihan maca kahanan. Memang semua butuh kesabaran, won zamane imam al-Ghazali saja butuh waktu hampir 100 agar terbangun generasi hebat Shalahuddin al-Ayyubi, padahal masa itu ulama dan penguasa masih banyak yang mengayomi umat. Lha saiki, umate pethakilan kaya dapurane dewe, ulamane mung gawene twitteran serang kana serang kene, apa meneh penguasane, dobol kabeh.

Sabar n berproses. Jo kakehan ngetungi tahun lan mbukaki tanggalan. Ndak malih pekok kowe ngko. Terimalah kemenangan nanti sebagai karunia Allah agar tidak terbersit kesombongan setitikpun dalam diri.

‪#‎MutiaraJumat‬

Surakarta, 12 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.