Beragama Tanpa Sains

Hujan dan angin sekarang mengerikan. Pasti peringatan Tuhan. Demikian kata sebagian kita. Kasihan Tuhan disalah-salahke.

Dia sudah menciptakan sistem yang luar biasa kompleks dan hebat. Kita tinggal mengikuti pola yang berjalan, malah bikin aktivitas aneh-aneh yang mempengaruhi iklim. Giliran hujan dan anginnya mengerikan sebagai akibat dari perubahan iklim, Tuhan yang dikambinghitamkan. Begitulah perilaku manusia bodoh, bikin gara-gara sendiri, lalu lemparkan kesalahan pada pihak lain. Kayak para pendukung capres.

Di antara manfaat belajar agama dan sains secara beriringan, kita menjadi mengerti betapa Tuhan itu sangat sayang kepada makhluk-Nya. Dia sudah menghamparkan fasilitas kehidupan yang tidak terhitung lengkapnya. Pemamahan sains yang benar, akan membawa kita sampai pada kesadaran betapa Tuhan senantiasa menampilkan sisi dominannya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan Maha Penyiksa seperti ujaran-ujaran para elit agama yang menjual ketakutan untuk kepentingan elitisme mereka.

Orang yang belajar sains menjadi ateis bisa jadi hanya semacam jeda karena dia sedang onani sains berlebihan. Akan tiba waktunya bahwa sains tetap memiliki keterbatasan yang membuat orang akan sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itulah yang berkuasa. Ia bukan imajinasi seperti tuduhan orang maniak sains, ia nyata adanya. Tapi toh tidak perlu diperdebatkan dan saling dipaksakan bagaimana orang harus percaya pada Tuhan, sebab Tuhan sendiri tidak memaksa manusia untuk memercayai-Nya. Hanya saja, amat keterlaluan kalau sampai nggak percaya.

Cara beragama kita hari ini sudah cukup akut. Kelamaan berkutat pada urusan formalisme ritual, sampai tidak menyelami hakikat-hakikat kasih sayang-Nya. Agama yang ditampilkan dalam diri Nabi Muhammad sebagai sosok rahmat bagi semesta, dicitrakan oleh generasi elit agama zaman sekarang (yang minta diaku sebagai ulama) sebagai ajaran penuh ancaman dan larangan. Padahal akan lebih baik kalau umat dilatih untuk cerdas pikirannya dan hidup hati nuraninya, sehingga ia bisa mengontrol tindakannya dan bisa menetapkan batasan dan larangan untuk diri masing-masing. Agama itu yang terpenting membentuk manusianya. Kalau manusianya terbentuk, dengan sendirinya peradaban akan membaik.

Jika cara beragama ala pagar batas semacam ini kita terus-teruskan, jangan salahkan jika banyak kaum agama yang berasa seperti narapidana. Ingat, sebagian narapidana itu ketika menjalani hukuman ada yang tidak taubat dan memperbaiki diri, tapi justru menambah keahlian kepada napi penjahat yang lebih hebat. Sehingga pada gilirannya nanti dia keluar dari penjara dan melakukan kekacauan yang lebih mengerikan dari pada seniornya.

Surakarta, 16 Desember 2018

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses