Kepribadian Jokowi dan Prabowo itu sebenarnya baik-baik saja, maksudnya ya sebagai manusia beliau-beliau itu memiliki keunggulan dan kekurangannya. Realitas politiklah yang membuat beliau berdua dicitrakan aneh-aneh.

Jadi, saya no comment soal keduanya dan tidak berharap yang muluk-muluk soal negara ini. Asal beliau-beliau ini posting di FB, Twitter, dan Instagram hal-hal yang membahagiakan terkait keluarga dan hobinya, saya sudah senang. Kalau soal aktivitas-aktivitas politiknya, saya skip saja, sebab isinya pasti berlebihan dari kenyataannya.

Yang lebih menggelikan lagi adalah pernyataan-pernyataan ekstrem dari orang-orang terkait beliau berdua ini. Ada yang sangat sebel dengan Jokowi, sehingga bukan kebijakannya yang dikritik, tapi malah hal-hal menyangkut personalnya. Ada yang sangat sebel dengan Prabowo, sehingga beliau yang sudah 2 kali gagal saja diolok-olok sedemikian kejinya. Ada yang dulu benci Jokowi dan mencaci maki dengan sangat keji, sekarang merapat sembari memuji-muji kayak njilati pantat babi.

Secara pribadi, saya lebih banyak mendapat informasi tentang sosok Jokowi. Sebab saya beruntung mengenal beberapa sahabat beliau yang menjadi saksi hidup bagaimana Jokowi yang semula pengusaha dan benci PDIP, tapi akhirnya mau berkiprah di politik hingga jadi Presiden seperti sekarang melalui PDIP. Dari cerita sahabat-sahabatnya ini, yang kebetulan bahkan ada yang menjauh dan menjaga jarak dengannya, sahabatnya ini tetap menyimpulkan bahwa Jokowi sebagai personal tetap seperti dulu, artinya ya sosok yang baik-baik saja.

Bahwa ketika jadi presiden kebijakannya banyak yang blunder dan janjinya banyak yang tidak bisa ditepati, saya kira sudah tahu alasannya, semua tergantung pada Pak Menteri Segala Urusan. Belum lagi para purnawirawan dan sponsor yang dulu telah pasang taruhan di 2014. Jelas mereka harus mengambil untung sepuasnya dong, mumpung menang taruhannya. Saya kira wajar bahwa beliau menjadi tersandera di masa kepemimpinannya ini.

Di 2019 besok, apakah Pak Jokowi dan Pak Prabowo bersih dari para sponsor raksasa? Saya kira tidak. Artinya, siapa pun yang jadi nanti, ya kira-kira nggak jauh beda. Tapi tetap saja media akan menulis apa yang mereka sukai, bukan yang masyarakat butuhkan. Sebab para bos media adalah bagian dari sistem besar yang mencengkeram negara ini. Jadi, mbok yang rileks saja soal pemilu 2019 itu. Tinggal turu wae lek.

Surakarta, 12 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.