Pada kenyataannya, keberadaan sistem negara-negara bangsa itu justru menghambat rekonsiliasi secara kemanusiaan.

Kasus Uyghur itu adalah kasus kemanusiaan, di mana dalam sejarah China komunitas Uyghur pasang surut dalam memberikan dukungan politik kepada penguasa di China.

Bangsa Han yang sekarang berkuasa, marah dan dendam kepada komunitas Uyghur yang pada masa penjajahan Jepang mereka berpihak kepada Jepang. Itulah mengapa komunitas Uyghur, yang kebetulan juga muslim sekarang dihukum terus-terusan oleh bangsa Han yang sedang jaya-jayanya berkuasa.

Muslim Hui Hui relatif masih mendapatkan kepercayaan dari pemerintah (tentu dengan sejumlah pembatasan berdasarkan konsensus bernegara di sana) untuk menjalankan agamanya. Artinya pemerintah China menghajar Uyghur lebih disebabkan karena alasan politik, seperti halnya pemerintah Turki menghajar bangsa Kurdi dan pemerintah Rusia zaman dulu menghajar Cechnya (sebelum akhirnya berdamai).

Kasus-kasus penganiayaan di atas akan sulit dihentikan sebab mayoritas kita sebagai bangsa di seluruh dunia menegakkan supremasi negara, bukan supremasi keadilan dan kemanusiaan. Kita lebih sensitif kalau tersengat oleh urusan nasionalisme yang chauvinistik, ketimbang urusan kemanusiaan yang murni.

Umat Islam pun demikian, sering salah sasaran. Kalau harus ada protes, demo soal agresi Pemerintah Saudi atas Yaman lebih prioritas untuk diurus ketimbang pembantaian Uyghur. Sebab dalam hukum antar negara, kasus Uyghur adalah kasus politik internal negara China. Beda dengan serangan Saudi atas Yaman yang merupakan agresi militer antar negara seperti yang pernah dilakukan Belanda pada Indonesia.

Ada pun konflik Israel – Palestina, masalahnya sebenarnya juga politis. Sebab pelakunya bukanlah semua orang Yahudi, tapi hanyalah golongan zionis. Orang Zionis adalah orang yang menganut ideologi bahwa tanah yang dijanjikan untuk mereka adalah Yerusalem, sehingga mereka harus menegakkan negara di sana bagaimana pun caranya, meskipun harus mengusir penduduk sebelumnya. Gerakan Zionis ini sebenarnya ditentang oleh orang-orang Yahudi sendiri yang anti zionis. Tapi ternyata kebanyakan umat Islam juga rasis terhadap orang Yahudi, padahal banyak orang Yahudi yang telah masuk Islam. Malah bahkan ada yang tetap menuduh bahwa orang Yahudi yang menjadi muslim itu cuma pura-pura. Kan parah banget.

Selama doktrin negara semacam ini tetap dipertahankan, ya selama itu pula pembantaian akan terus berjalan. Nggak usah jauh-jauh. Adanya negara membuat banyak masyarakat kita dipaksa angkat kaki dari tanah leluhurnya kan, dengan dalih pembangunan. Adanya negara, yang membuat segerombolan orang berduit bisa menghancurkan hutan untuk kepentingan mereka sendiri. Betapa konyolnya sistem-sistem negara semacam ini. Dulu-dulu, model kerajaan malah tidak sebrutal ini.

Surakarta, 17 Desember 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.