Yang bikin rempong menyikapi dinamika global saat ini adalah saat kita masih terikat kuat oleh wadah-wadah primordial dalam wujud fanatisme.

Padahal manusia itu seharusnya lebih luas dari wadah-wadah primordial itu. Wong dulu ormas, parpol, bahkan negara sekalipun didirikan karena adanya kesepakatan antar manusia.

Kok sekarang justru manusia dikerdilkan dalam wadah-wadah primordial itu. Paling gampang melihatnya adalah bagaimana rempongnya orang NU dan Wahabi membangun rasa saling percaya di antara mereka sebagai manusia. Bagaimana pula cebong fanatik dan kampret fanatik.

Kerempongan itu terjadi karena manusia-manusia justru memasukkan dirinya dalam wadah-wadah itu secara fanatik. Jadi ibarat orang bikin kendaraan, tapi setelah kendaraan jadi, ia justru merantai dirinya di atas kendaraan itu. Ketika kendaran melaju, ia tidak bisa mengendalikan kendaraannya sendiri. Lho sik gawe sapa? Sing mumet dewe sapa?

Dengan kesadaran ini pula, khususnya umat Islam bisa memulai untuk membuktikan dengan sungguh-sungguh dan mendalam bahwa Islam memang diturunkan oleh Allah, bukan sekedar ajaran bikinan manusia. Sebab istilah Sunni – Syiah, Aswaja – Wahabi, NU – Muhammadiyah – Persis dll, apalagi PKB – PKS – PBB dll adalah tafsir manusia bagaimana menjalankan Islam. Namanya tafsir, ya jelas tidak sama dengan Islam itu sendiri.

Jadi, mumpung sekarang lagi do rempong kayak gini. Mari temukan Islam dalam diri kita masing-masing. Sebab yang besok dipertanggungjawabkan di akhirat adalah Islam yang kita yakini sepenuhnya dalam hati kita.

Surakarta, 22 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.