Sebagai seorang muslim, keyakinan atas sebuah pendapat itu penting. Sebab para Nabi itu mengawali dakwah sebagai seorang diri yang memiliki keyakinan atas apa yang kemudian disampaikannya.

Yang tidak boleh adalah memaksakan pendapat dengan cara-cara yang tidak terpuji, seperti menjelek-jelekkan yang berbeda pendapat, membungkam secara sistemik, bahkan karena memiliki kekuasaan kemudian melakukan pembunuhan secara keji, baik karakter maupun fisik.

Lahirnya fanatisme madzhab dan politik saat ini tidak lepas dari kemalasan kita belajar demi memeriksa kebenaran pendapat kita sendiri. Karena malas apa-apa diserahkan pada otoritas madzhab, ormas, dan golongan ini itu. Selain itu, tentu saja adanya kepentingan-kepentingan pragmatis yang kita miliki, seperti soal uang, kedudukan, dll. Apalagi kalau urusannya sudah soal uang dan kita terlanjur cinta mati, maka segala pendapat menjadi tidak penting, jika tidak sejalan dengannya.

Jika kita sungguh-sungguh belajar, maka perbedaan pendapat itu biasa-biasa saja, seekstrim apa pun. Cap-cap liberal, sekuler, dll yang hari ini terpaksa muncul di publik karena kita takut untuk meluas dan mendalam dalam berpikir. Orang-orang yang merasa liberal dan sekuler sebenarnya juga berat sebelah, sebab mereka tidak sungguh-sungguh untuk mendalami apa yang disebut sebagai agama. Demikian pula yang dicap sebagai radikalis, ya berat sebelah karena biasanya juga memaksakan pendapat secara kasar hingga sering menggunakan cara-cara kekerasan.

Tentu saja, semua tulisan saya ini berarti juga pendapat saya. Suatu saat, kalau saya meyakini ada yang lebih baik, maka pendapat-pendapat itu akan saya batalkan dan saya tetapkan pendapat baru saya di tulisan-tulisan terkemudian.

Surakarta, 24 April 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.