Kapitalisme itu berangkat dari pola pikir yang pokil dan selalu ingin menumpuk laba tanpa batas. Perusahaan Apple mungkin disebut kapitalis, tapi saya tidak yakin Steve Jobs adalah seorang kapitalis. Dia seorang inovator gila yang pernah ada.

Di negeri ini, Steve Jobs dalam kelasnya masing-masing sebenarnya banyak. Di desa-desa, di bengkel kecil, bahkan di dunia TKI kita, orang-orang yang pikirannya mengalami lompatan sebenarnya banyak. Kita saja yang tidak bisa memahami hal itu, karena mainstream berpikir kita saat ini kapitalis, yaitu laba, laba, dan laba.

Menurut sebuah tulisan, para eksekutif perusahaan kapitalis AS terkadang justru orang-orang yang memilih kehidupan eksotis dan manual ketika sedang reses. Mereka tidak mengizinkan keluarganya kecanduan teknologi tinggi, sekalipun perusahaannya terus melakukan penetrasi teknologi ke seluruh dunia. Apa kuncinya? Kesadaran manusiawi masih tersisa di dalam diri mereka. Memang ini sangat paradoks.

Itulah mengapa Islam menekankan amal (usaha) bukan hasil. Sehingga kalau pada suatu masa secara kekuasaan umat Islam jatuh, tidak berarti umat Islam gagal. Karena Allah menilai pada diri setiap muslimnya. Kebangkitan Islam itu adalah bonus dari kesadaran kolektivitas. Itulah mengapa, bagi seorang muslim, kehadiran Allah dan Rasulullah itu lebih penting dibandingkan apa pun. Mereka akan memandang berbagai institusi manusia dari waktu ke waktu sebagai sesuatu yang relatif saja. Karena puncak beragama itu adalah tentang rasa beragama itu sendiri. Bisa saja kita menguasai ratusan kitab, tapi kenikmatan beragama tetaplah urusan personal. Kita bisa saja paham A sampai Z fikih shalat, tapi kekhusyukan shalat tetaplah menjadi rasa personal masing-masing.

Saya yakin Allah mengutus Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengajak manusia menjalani hidup dengan nikmat melalui jalan beragama. Sehingga tidak kemrungsung dan kerengan seperti para pembesar Quraish yang terus menerus mencari laba sambil menginjak-injak martabat manusia lainnya. Jadi jika hari ini cara kita mengenalkan Islam membuat orang tidak menemukan rasa beragamanya yang nikmat, bisa jadi kitalah yang sebenarnya menjauhkan cahaya Allah kepadanya.

Surakarta, 31 Maret 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.