Feminisme itu muncul karena perlawanan kaum perempuan terhadap tekanan kaum laki-laki di Barat, baik dalam konsep rumah tangga maupun kebudayaan.

Saya tidak tahu persis motifnya, tapi intinya itu adalah sebuah reaksi atas gejala sosial yang terjadi. Anehnya, orang-orang sini ikut-ikutan mengusung feminisme melalui definisi-definisi lucu dan menurut saya cacat dan tidak konsisten.

Dalam kebudayaan kita, aslinya laki-laki dan perempuan bekerja itu biasa-biasa saja. Buktinya mbah kakung dan mbah putri saya itu setiap menggarap sawah selalu bersama. Artinya tanggung jawab bekerja tidak hanya dipikul laki-laki, tapi juga perempuan. Nggak ada tuh protes kayak sekarang di mana perempuan diharuskan di rumah dan momong anak.

Lalu peradaban pertanian itu terkena pengaruh kolonialisme sehingga perlahan-lahan kita memasuki era industri. Walaupun dijalankan di kawasan kota dan industri khusus, perubahan ini sangat terasa dan membuat banyak generasi muda meninggalkan tradisi bekerja di pertanian, nelayan, dan ranah pekerjaan yang bersifat interaksi langsung dengan alam.

Di situ, sebenarnya kan sama saja, ketika perempuan bekerja. Bedanya, di masa pertanian, misalnya seperti mbah kakung dan mbah putri saya, mereka adalah juragan sekaligus pekerjanya sendiri. Makanya mereka bisa mengatur waktu kerja dan harmonisasi bekerja. Ketika era industri, kaum laki-laki dan perempuan sama-sama jadi buruh, makanya mereka tidak bisa mengatur waktu bekerja secara harmonis seperti di era pertanian, sebab mereka bukan bosnya.

Kondisi ini kemudian menimbulkan masalah dalam hubungan keluarga antara suami dan istri. Apalagi jika itu menyangkut besarnya penghasilan dan terbengkalainya tugas-tugas keluarga. Ya jelas beda, ketika bertani di sawah kondisinya lebih fleksibel. Ketika terikat dengan kontrak kerja, baik suami maupun istri, jika sama-sama bekerja harus patuh pada jam kerja. Makanya seringkali anak yang dikorbankan.

Polemik ini kemudian menimbulkan reaksi sendiri-sendiri di tiap-tiap keluarga. Ada kaum laki-laki yang kemudian memaksa istrinya di rumah saja, karena ia tidak mau harga dirinya terluka akibat penghasilan istri yang lebih besar. Ada perempuan yang ngotot bekerja karena penghasilannya lebih besar dari pada suami, sementara suaminya tidak terima diperlakukan demikian. Pada dasarnya ini adalah konflik biasa atas sebuah gejala sosial. Yang kemudian menjadi masalah adalah cara penyelesaiannya itu.

Sebagian perempuan kemudian mengadopsi feminisme Barat di mana perempuan cenderung melawan dominasi kaum laki-laki. Secara substansi mungkin bisa benar. Karena jika laki-laki mengekang hak perempuan mengembangkan potensinya, perempuan berhak keluar dari kekangan itu. Tapi jika caranya dengan pendekatan perlawanan maka itu menjadi bias mengingat budaya timur sangat menekankan sisi kebijaksanaan rasa, bukan intelektual rasional.

Tindakan mengikuti gerakan feminisme di atas, tentu saja melahirkan perlawanan dari kalangan perempuan yang tidak setuju dengan cara itu. Sederhana saja alasannya, sebuah ekstremisme itu akan melahirkan ekstremisme lainnya yang bersifat antitesis. Karena masyarakat kita kental dengan nilai-nila i keagamaan (dalam hal ini Islam), maka wacana dari teks-teks sejarah Islam kemudian dikemukakan untuk melawan feminisme. Apakah ini benar? Belum tentu, sebab wacana yang diusulkan pun kebanyakan berkonteks Arab yang secara sosial memang cenderung meletakkan perempuan di dalam rumah.

Akibatnya, konflik feminisme dan antifeminisme itu malah tidak menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya, yakni tentang konflik-konflik internal keluarga akibat perubahan era dari pertanian ke era industri. Kita sebenarnya memiliki pola kebudayaan sendiri yang seharusnya tidak perlu ruwet dengan aneka-aneka gerakan ekstremis yang timbul di Barat. Tradisi kebudayaan kita turun temurun adalah setiap masalah itu dirembug dan dimusyawarahkan dengan baik. Laki-laki dan perempuan yang menikah itu artinya siap berbagi tugas dan peran untuk meneruskan peradaban.

Jadi, soal perempuan sebaiknya di rumah, bekerja, atau apa pun, itu tetaplah masalah internal antar keluarga yang harus dibicarakan antara suami dan istri. Tidak ada kaitannya dengan urusan feminisme maupun anti feminisme. Jika perempuan bekerja di luar, tinggal bagaimana perempuan menjaga diri dan bagaimana suami memastikan urusan rumah beres. Atau sebaliknya. Jangan semua gampang digeneralisir ah. Kan kita itu dihidupkan untuk mengatasi masalah, bukan harus membuat narasi besar-besar yang (katanya) mengubah peradaban.

Peradaban itu lahir dari personal-personal manusianya. Padahal setiap manusia memiliki pikiran-pikiran originalnya. Lha kalau setiap hal diatur-atur dan diseragamkan, misalnya harus jadi feminis atau sebaliknya harus jadi anti-feminis, rak yo ora ana bedane karo cebong dan kampret to ya.

Surakarta, 19 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.