Menurut sependek pengetahuan saya, seorang muslim ya seharusnya menempatkan dirinya sejajar satu sama lain dalam perkara muamalah. Itu secara ideal bisa berjalan jika kita tidak banyak dirusuhi oleh aturan-aturan aneh yang merepotkan dan bertentangan dengan fitrah Islam.

Negara adalah bagian dari alat bermuamalah, maka posisinya ya lebih rendah dari kita to. Nah yang terobsesi jadi kepala negara atau pengurus negara seharusnya menyadari bahwa dirinya ketika memakai seragam dan memasuki jam dinas artinya sedang merendahkan diri dari posisi rakyat menjadi pelayan rakyat. Bukan malah sok gagah tukang ngatur rakyat.

Maka ya seharusnya jangan ada wacana pekok di media bahwa presiden berjasa bla bla bla, gubernur membantu fakir miskin, walikota menyumbang bla bla bla. Ya tidak ada istilah berjasa, membantu, atau menyumbang to ya, wong cen itu tugase. Mosok hal semacam itu kok bikin nggumun. Yang harusnya bikin nggumun itu kalau ada berita, sebuah perkampungan yang masyarakatnya solid berhasil membuat sebagian pegawai pemerintahan menganggur, karena semua masalah sudah diatasi warga secara swadaya dan swakarsa.

Jika kita memegang teguh prinsip dasar ini, insya Allah kita tidak akan mempan dihantam oleh paham-paham rusak seperti sekularisme, liberalisme dan semacamnya. Masak ada wacana agama dipisah dari negara. Lha wong urusan agama itu urusan personal yang harus diaplikasikan secara individual dan secara sosial. Ya kalau negara susah diatur dengan nilai-nilai agama, ya ga usah ada negara saja to.

Kita hidup sebagai sesama manusia yang beragama kan bisa. Malah tidak ruwet kebanyakan sistem kayak sekarang. Kan kalau martabat kita diinjak ya kita lawan, kalau kita menang kita tahan diri dan maafkan mereka yang kita kalahkan, kalau kita kalah dan mati, kan baik juga. Dari pada mumet hidup dalam berbagai aturan yang munafik kayak sekarang, sehingga kita serba salah mau berbuat kayak apa pun.

Dakwah Islam yang dibawa Rasulullah itu untuk menyempurnakan akhlak. Orang yang berakhlak itu tidak butuh banyak aturan fikih. Orang tidak perlu diancam dengan neraka agar shalat, karena ia akan shalat dengan dasar cinta. Orang tidak perlu dilarang untuk mencuri, karena ia tahu kehormatan diri sehingga tidak ingin mencuri. Pendek kata keberhasilan dakwah Islam itu dilihat dari kemajuan akhlak manusia, bukan dari semakin ruwetnya aturan fikih dan berbagai monumen kebesaran kekuasaan. Menurut saya, semakin Islami sebuah masyarakat, gaya hidupnya semakin sederhana, semakin tidak neka-neka, dan karya-karyanya tepat guna.

Hari ini, yang kita saksikan adalah kebalikan dari gambaran ideal di atas. Kita lihat bagaimana orang dengan percaya diri korupsi lalu menyumbang pesantren dan pergi umroh. Setahu saya iblis itu masih takut pada Allah, makanya dia sampai hormat pada Firaun yang berani mengaku sebagai tuhan. Itu pun akhirnya Firaun menyadari kesalahannya meski telat dalam bertaubat. Lha yang kita lihat di TV-TV itu coba, apa kesan kita pada mereka? Kok rasa-rasanya blas tidak ada rasa takut sedikit pun pada Allah gitu lho. Malah ada yang berani bersumpah atas nama-Nya, kurang yahud apa coba?

Jadi, kadang kita perlu membuka KTP kita, lalu pantengin kolom agama sambil merenung “benarkah saya telah ber-Islam?”

Juwiring, 29 Maret 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.