Persenggamaan ala LGBT maupun persenggamaan suami istri yang sah, pada tataran fisiknya memang sama-sama untuk mencari kepuasan seksual. Jadi pelaku LGBT kalau mau diejek dan dibantah dengan argumen yang menyangkut fisik, mereka bisa dengan enteng menjawab, “yang penting kan puas”. Selesai.

Persoalan LGBT itu sebenarnya hanya efek paling terluar dari manusia yang kehilangan visi hidup sejatinya, yaitu mengabdi kepada Sang Maha Tunggal. Masalahnya koneksi manusia dengan Sang Maha Tunggal itu koneksi spiritual. Koneksi spiritual itu perkara batin dan hati nurani. Problemnya, setiap hari kita kebanyakan berdebat dengan cara-cara intelektual yang ujung-ujungnya sangat bisa dibantah dengan kalimat, “ya kan ini urusan saya, ngapain kamu ikut campur”.

Saya sangat jarang menemukan pendekatan spiritual dan penyadaran batin dari kalangan tokoh yang gigih melawan LGBT. Sebagaimana Nabi Muhammad dulu, ia sadar hidup di bawah aristokrasi jahiliyah yang sadar kelas. Maka pendekatan beliau adalah pendekatan moral-spiritual, yakni mengajak manusia kembali pada kesadaran kemanusiaannya, mengabdi hanya pada yang Maha Tunggal.

Beliau sendiri menjadi garda terdepan dalam teladan kasih sayang dan menolong orang-orang yang membutuhkan. Itulah mengapa para pemuka Mekah tidak bisa menjelekkan beliau sedikit pun. Satu-satunya jalan adalah dengan menebar hoax bahwa beliau adalah DUKUN. Hoax tentang MUHAMMAD SANG DUKUN itu kemudian efektif menghentikan laju dakwah Nabi di Mekah, sampai akhirnya beliau hijrah ke Yastrib (Madinah).

Di zaman modern ini, visi hidup manusia sudah berbalik ke belakang. Jika para Nabi senantiasa mengajak manusia beranjak dari kesadaran material untuk menuju kesadaran Tunggal yang hakiki, peradaban modern justru mengajak manusia makin menggilai material. Makin tua makin obsesif pada materi. Ibaratnya, Allah mengajak manusia pulang kepada-Nya, tapi modernisme justru mengajak manusia berbalik ke belakang. LGBT hanya satu dari banyak alternatif pencapaian kepuasan material. Ada banyak alternatif lainnya. Tapi semua sama, mengajak manusia meninggalkan Tuhannya.

Surakarta, 20 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.