Berdasarkan data yang ada, investasi asing di Indonesia itu sebenarnya kecil.

Masalahnya oligarki kita itu kelewat berkuasa. Kekayaan mereka 600 ribu kali kekayaan orang-orang biasa (pendapatan per kapita) di negeri ini.

Yang menjajah kita itu janjane ya elit oligarki kita sendiri yang kayanya kelewat batas. Jahatnya lagi, mereka itu udah kaya, semua infrastruktur kekuasaan dikuasai mereka, kok ya masih bikin pemilu yang rakyatnya teradu domba gini.

Pemilu ini yang memutuskan kandidat ya mereka. Wong mereka berkuasa pada mayoritas parpol dan media. Lewat parpol mereka buat syarat yang bisa jadi kandidat capres jika diusung parpol. Lewat media mereka populerkan kandidat yang sejak awal pro pada oligarkki.

AS dan China memang punya pengaruh di Indonesia. Tapi oligarki lokal kita lebih kuat pengaruhnya dalam mengatur jalannya pemerintahan. Anehnya, umat Islam yang katanya membawa misi pembebasan agung dari Rasulullah, jebul jadi fansboy para oligarki. Itu pun saling berbelah bagi, satu sorak-sorak di sebelah sana, satunya sorak-sorak di sebelah sini.

Saya jadi teringat pernyataan Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari ketika beliau menjadi penasihat tertinggi partai Masyumi (kala belum terpecah menjadi Masyumi dan NU). “Hanya Masyumi lah satu-satunya wadah perjuangan umat Islam di Indonesia yang sah”. Secara substansial, saya memahami hari ini mengapa beliau sampai membuat pernyataan semacam itu, yaitu bikin satu wadah perjuangan atau perjuangan akan gagal ketika terpecah belah.

Hari ini semakin terasa buktinya. Potensi umat Islam itu sangat besar, tapi mengapa dalam kontestasi politik selalu kalah, padahal partai-partai yang mewakili aspirasi Islam cukup banyak. Tapi nyatanya perolehannya kalau digabung nggak nyampai 1/3 total kekuatan parlemen. Itupun kepentingan politiknya berbeda-beda dan mereka saling berpecah belah. Menjadi kekuatan mayoritas di demokrasi negeri ini tinggal mimpi. Kecuali umat Islam memulainya dari nol lagi, yaitu bangun persaudaraan bersama dan kembali ke tujuan dakwah umat yang hanif.

Umat Islam sudah mayoritas secara jumlah. Tapi masih harus meningkatkan kualitas SDM-nya agar lebih kuat berkompetisi dengan yang lainnya. Terutama mampu meredam hawa ngamuknya sehingga justru menjadi “air tenang menghanyutkan”. Ya ini mimpi, tapi mimpi yang masih bisa diwujudkan kok. Paling tidak, mari kita tambah kewajiban fardhu ‘ainnya setelah shalat, puasa dll itu dengan mengelola sampah rumah tangga agar menjadi bermanfaat dan tidak terlalu mengotori lingkungan. Jika setiap umat Islam bisa mengambil tanggung jawab lingkungan ini, siapa tahu Allah terharu dan membantu jalannya transisi kekuasaan di negeri ini.

Percayalah, masalah sampah itu tidak akan menimbulkan tafsir yang terlalu berbeda. Anda bisa berdebat soal cara shalat yang paling benar, cara puasa yang paling nyunnah atau apa pun. Tapi masalah sampah, hanya orang yang berkepala dan berhati batu yang masih memperdebatkannya apakah itu harus segera diurus atau dibiarkan saja.

Surakarta, 22 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.