Setahu saya, negara itu eksis jika memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintah yang berdaulat, serta mendapatkan pengakuan dari negara lain.

Dari keempat unsur itu, tiga unsur bersifat internal dan riil. Artinya wilayah (darat laut seisinya), rakyat (SDM dan produktivitasnya), dan pemerintah (SDM dan produktivitasnya) adalah aset riil yang dimiliki sebuah negara.

Menurut wikipedia, luas wilayah darat dan pesisir pantainya mencapai 1.904.569 km2. Jumlah penduduknya 255.461.700. Artinya dari dua unsur itu saja kita bisa melihat besarnya aset yang dimiliki. Jika satu m2 dihargai flat 100rb, maka total aset wilayahnya sudah sebesar 190.459.600.000.000.000 alias 190.546 triliun. Itu baru wilayah permukaannya lho, belum kalau dikeduk isinya.

Belum lagi aset SDM-nya, secara fisik saja jika melihat harga ginjal sekitar 500jt dan harga jantung sekitar 1 M, maka aset fisik 1 manusia utuh anggap saja bernilai 1 T, maka total aset SDM-nya sudah 255.461.700 T. Belum lagi nilai produktivitas yang dihasilkan masing-masing, meliputi keahlian dan kerja mereka. Belum lagi SDM khusus orang-orang pemerintahan dan para ahli, nilai mereka jelas sangat-sangat tinggi karena memiliki kualitas yang berbeda dari rakyat biasa.

Kok kita bisa-bisanya membuat sebuah metode pencatatan aset yang konyol. Masak bu Menteri terkeren bilang kalau aset negara kita cuma 5.500 T. Itu aset negara atau aset pemerintah Bu? Dengan jaminan aset sebesar itu, masak negara ga bisa mencetak uang banyak. Tidak hanya untuk diedarkan di dalam negeri, tapi disebar keluar negeri sebanyak-banyaknya. Amerika Serikat saja bisa, masak Indonesia tidak bisa? Masak membayar hutang sebesar 6.000 T saja sampai harus hutang lagi?

Surakarta, 17 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.