Dulu ketika SMA dan kuliah saya sering mendapatkan arahan soal keberpihakan politik, alasannya politik itu vital dalam menentukan kebijakan.

Nasihat para senior itu benar dan logis, jika politik berada di dalam posisi yang tidak tergadai oleh kapitalisme. Lha kalau sekarang, hal itu jelas tidak relevan.

Di mana-mana, politik hanyalah subkontraktor dari sistem ekonomi kapitalis. Menguatnya sistem kapitalisme di segala bidang bukan semata-mata salah politisi, tapi karena mayoritas rakyat mengalami pergeseran orientasi, yaitu sangat senang menumpuk duit sebanyak-banyaknya.

Paling parah, tokoh-tokoh agama yang seharusnya menjadi benteng terakhir dan panutan dalam zuhud serta melawan penindasan dan ketidakadilan, sekarang justru ramai-ramai ikut kelon dengan duit bersama para politisi yang senang dengan duit. Ya manusiawi sih, duit itu menggiurkan kok.

Rakyat mana sempat berpikir tentang bahaya kapitalisme itu. Mereka lihat artis dan politisi sama-sama maniak duit, jadinya kita semua memiliki paradigma ya sama, bekerja untuk cari duit semata, bukan bekerja untuk menghasilkan produk yang bermanfaat. Soal duit seharusnya tidak primer, jika roda perekonomian dikelola dengan baik. Artinya jika roda perekonomian kita normal, namanya orang berproduksi ya akan dapat duit sesuai nilai kerjanya.

Tapi paham kapitalisme yang memasuki pikiran orang sebangsa menjadikan kita tidak logis dalam melihat uang. Semua orang berlomba mengejar posisi kepenak dengan uang berlimpah. Maka cara paling kepenak ya jadi politisi. Duduk di kursi parlemen atau pejabat tinggi, hak keuangannya berlimpah, belum upeti-upeti rutinnya.

Mereka mungkin lupa, bahwa posisi mereka sebenarnya hanya subkontraktor penguasa modal. Jika para politisi tidak gigih membela rakyat, rakyat akan menderita. Akhirnya rakyat yang nekad, terobsesi juga untuk ikut jadi politisi, minimal jadi tukang pelnya politisi.

Akhirnya rakyat tidak fokus mengenali diri, bakat, dan perannya. Kita semua fokus satu hal, cari duit sebanyak-banyaknya, lalu senang-senang.

Surakarta, 25 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.