Jaman masih unyu dalam belajar demokrasi, saya begitu percaya dengan berbagai argumen bahwa golput itu berbahaya. Ya wajar, saya kurang piknik.

Padahal ya golput itu hal wajar dalam demokrasi. Kalau opsi yang ditawarkan ndak ada yang cocok, mosok tetep milih, pekok jenenge. Yang tidak etis dilakukan adalah kampanye untuk golput secara terbuka, itu tidak etis.

Tapi kalau mau golput ya golput aja. Ngajak keluarga atau teman dekat golput, ya manusiawi aja. Ngajak golput di medsos, ya siap rame dengan yang anti golput. Tapi kalau ada yang melarang golput, apalagi pemerintah kok melarang golput, itu melampaui batas namanya.

Yang semestinya dilarang, bila perlu diberi sanksi adalah tidak taat aturan main. Seperti di 2014, para pasangan sama-sama deklarasi kemenangan padahal KPU belum memutuskan. Dan masih banyak pelanggaran aturan main yang sebenarnya punya konsekuensi hukum.

Belum lagi seabreg pelanggaran etika yang sekarang sedang ramai dipertontonkan. Harusnya disalurkan di bilik suara, malah sudah diumbar di media sosial. Bukan timses tapi ikutan kampanye. Sudah habis masa kampanye masih tetap berkubu. Bahkan tokoh-tokoh agama justru masuk dalam perangkap kubu-kubu yang secara otomatis membuatnya harus mendegradasi agama sesempit orientasi politiknya.

Lalu, dengan segudang kekonyolan semacam ini apakah kita masih bisa meneruskan demokrasi? Kalau memang watak sebagian besar kita masih monarki, mbok sudah mari kembalikan saja ke cara monarki. Biar tiap pergantian kekuasaan dikobarkan perang dan pembantaian. Mau kayak gitu?

Surakarta, 18 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.