Pasukan paling mematikan dari AS itu bukanlah SEAL, SWAT dan angkatan perangnya yang memiliki banyak kapal induk dan pesawat pembom, tetapi tim humas pemerintahan yang berhasil memframing apa pun yang menjadi keinginan “sang Juragan” lewat media-media internasional.

Jika si A tidak disukai, maka diframing sebagai penjahat hingga teroris. Jika negara B hendak dikuasai SDA-nya, diframing sebagai negara yang diperintah diktator, menyimpan senjata pemusnah massal, dll. Jika agama/aliran C dianggap membahayakan kapitalisme, diframing sebagai ajaran radikal dan didesainlah berbagai kekacauan oleh intelijen agar bisa menjadi bukti kecil atas framing itu. Sehingga tidak heran jika segelintir orang yang meledakkan bom dengan takbir, bisa menjadi legitimasi atas framing bahwa Islam adalah agama terorisme. Padahal ada ratusan juta muslim yang hidupnya damai dan sangat toleran.

Peran tim humas ini sangat vital dalam mempertahankan hegemoni AS di seluruh dunia. Gagasan kehumasan yang dibangun di era perang dingin itu, kini diadopsi oleh negara-negara yang menganut demokrasi ala AS. Yaitu dengan maraknya konsultan politik dan framing media untuk pencitraan para politisi. Menyewa preman dan menghabisi nyawa tokoh sudah bukan zamannya lagi. Sekarang cukup lemparkan bola panas lewat framing-framing media yang kepemilikannya sudah diambil alih untuk mematikan karakter seorang tokoh, gerakan, atau rival.

Jadi, antisipasi terbaiknya adalah membangun imunitas informasi di tengah masyarakat. Setiap orang wajib belajar tentang informasi dan melawan setiap godaan informasi secara mandiri. Sebab, yang bakal rusak-rusakan oleh serangan tim humas dan pencitraan ini adalah masyarakat yang terpancing oleh tipudaya itu. Masyarakat yang tetap waras dan menggunakan akal sehatnyat, tidak akan mudah terseret oleh berbagai provokasi murahan para penjahat itu.

Surakarta, 11 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.