Sejak awal kemunculannya, Sunni – Syiah itu adalah perpecahan politik. Perubahan teologi dalam internal Syiah baru belakangan munculnya, mereka juga terpecah ke dalam madzhab-madzhab, seperti halnya Sunni. Selain empat madzhab besar yang sering dikategorikan sebagai aswaja, ada lagi pecahan Sunni yang sering disebut sebagai Wahabi.

Hari ini pun, permusuhan dengan Syiah yang dimotori Saudi juga sebenarnya permusuhan politik. Sebelum Ayatullah Khomeini mengambil kendali dalam revolusi Iran, Raja Saudi berkawan mesra dengan Syah Iran. Madzhab yang dianut Saudi banyak disebut-sebut Hanbali (salah satu dari empat madzhab Sunni), tapi banyak juga yang menyebutnya sebagai Wahabi dan tidak masuk dalam salah satu dari empat madzhab itu.

Jika orang Indonesia yang punya urusan internal ruwet seperti ini dengan munculnya Bani Cebong vs Bani Kampret masih mau ruwet ikut-ikutan perkubuan yang sedang terjadi di Timur Tengah, betapa semakin kompleksnya masalah yang muncul. Belum lagi jika ditarik bahwa Saudi adalah sahabat dekat Israel dan Amerika Serikat. Sementara Iran adalah sahabat dekat Rusia dan China. Padahal AS dan China sedang melakukan perang ekonomi di dunia, termasuk di Indonesia.

Dengan kerumitan semacam ini, saya geleng-geleng kepala lihat saudara-saudaraku sesama umat Islam masih tetap bertengkar dalam polemik Sunni – Syiah, apalagi masuk dalam perangkap Cebong dan Kampret. Kan variasi kubunya menjadi Sunni Cebong, Sunni Kampret, Syiah Cebong, dan Syiah Kampret. Itu baru dua pasang variabel. Belum kalau variabel pribumi – asing aseng dimasukkan, liberal – ortodoks, Islam Nusantara – Islam Arab, dll. Betapa semakin rumitnya gaduh antar kubu internal umat Islam yang terjadi di Indonesia. Apalagi dalam skala kebangsaan yang melibatkan semua elemen bangsa. Ya Allah, senengmen le eker-ekeran muk gara-gara politik.

Surakarta, 9 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.