Al Qur’an, Prasasti untuk Dinamika Manusia dan Seluruh Ciptaan Tuhan

Demi menjaga kewarasan dan kewajaran kemanusiaan kita, saya berpendapat bahwa mengatakan “menurut pendapat saya, pemikiran/ tindakan/ keputusan-mu/nya/mereka itu benar/ salah” itu sah diucapkan siapa pun terhadap siapa pun berdasarkan kadar pengetahuan masing-masing manusia tanpa harus dimusuhi. Toh kita berhak juga mengatakan sebaliknya.

Jangan buru-buru ditamengi dengan larangan, “Dia kiai lho!”, “Dia Santo lho!” Bahkan hingga “Dia Nabi lho!”. Kita baru pantas bereaksi menyangkal jika yang muncul terhadap sesama manusia berupa ungkapan, “dia Iblis, dia setan, dia binatang, atau bahkan pujian berlebihan dia malaikat (tanpa ungkapan tambahan seperti “dia berhati seperti” dll)”. Atau bahkan melakukan tindakan-tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaannya. Yang seperti itu pantas diluruskan, mulai dengan kata-kata yang baik hingga tindakan yang tegas, jika diperlukan.

Yang perlu diperhatikan adalah ungkapan benar dan salah ini berbatas konteks. Misalnya jika kita berpendapat bahwa Kiai Staquf salah dalam tindakannya menghadiri undangan di Israel, konteks kesalahannya ya hanya sesuai dengan topik itu. Tidak lantas beliau seenaknya dihina-hina dan dicaci maki hingga diklaim sebagai penghuni neraka. Padahal beliau dan kita sama-sama masih hidup. Bisa-bisa kita kualat.

Hal ini penting karena sekarang kita sedang dilanda ekstrimisme dalam melihat sisi benar dan salah semacam ini. Kubu ekstrim yang pertama terlalu mengedepankan patron dan doktrin, sehingga keberadaan tokoh panutan menjadi sedemikian dominan. Sebenarnya keberadaan tokoh panutan itu adalah hal baik jika disikapi secara wajar. Tapi jika dia kemudian diposisikan sebagai tokoh yang tidak pernah salah, hingga segala tindakannya dibenarkan dan dicari-carikan alasan untuk membenarkannya, lahirlah ekstrimisme.

Sedangkan, kubu ekstrim yang lain adalah kelewat liberal memandang manusia bukan sebagai manusia sehingga kita menanggalkan adab dan merendahkan martabatnya. Kalau menyalahkan orang, mendadak njangkar dan tidak menjaga etika berdasarkan kebudayaan yang berlaku. Misalnya dulu saya pernah melihat teman FB tidak setuju dengan cara Gus Mus merespon sesuatu melalui puisinya, dia lantas membuat status dengan menyebut Gus Mus hafidzahullah, maaf dengan njangkar, “Mus, awakmu iku ….”. Nah ini juga merupakan bentuk ekstrimisme sebagai antitesis yang pertama.

Kedua ekstrimisme ini sangat ditentang oleh para Nabi. Makanya para Nabi itu kebanyakan bukanlah tokoh elit di tengah masyarakatnya. Mereka adalah orang-orang biasa yang berani mengemukakan pendapatnya secara berkualitas di hadapan manusia, baik kepada para raja maupun kaum dhuafa. Pembelaan mereka sangat jelas, yaitu mengangkat manusia yang tertindas seraya menasihati manusia yang menindas agar sadar diri. Inilah prinsip paling dasar yang dibawa para Nabi dalam praktik kehidupan sosial sebagai bukti nyata bahwa kita bertauhid.

Dengan demikian, al Quran sebenarnya cerminan dari kehidupan manusia itu sendiri. Ia adalah sesuatu yang ada dalam diri manusia dan alam semesta ini. Ia memberikan gambaran besar tentang kekuasaan Allah dalam penciptaan, terkusus bagaimana pasang surut perilaku kehidupan manusia. Artinya manusia dan al Quran itu semacam pasangan hardware dan software. Ibaratnya begini, seandainya orang itu tumbuh dalam fitrahnya yang baik, meskipun seumur hidup ia tidak diajar ngaji al Quran, akhlaknya akan mencerminkan apa yang ada di dalam al Quran. Wajah utama manusia itu ya ada di perilakunya. Jadi kalau manusia itu masih beriman pada Sang Pencipta, lalu dengan iman itu ia beradab, niscaya perilakunya akan wajar sebagai manusia. Jika ia adalah manusia sewajarnya, pasti tidak akan mencuri, berzina, dll sekalipun seumur hidup tidak bertemu dengan orang yang mengenalkan kata Islam. Itulah keyakinan fitrah manusia.

Oleh karena itu, sepertinya bukanlah tindakan yang bijak jika kita menganggap bahwa orang biasa itu tidak mampu ber-Islam sebaik para elit agama. Bukankah para elit agama itu karena diberi ilmu yang berlimpah, ujiannya juga berat dan konsekuensi tugasnya jauh lebih besar, serta ancaman siksaannya berkali-kali lipat. Sedangkan orang-orang biasa terkadang justru bisa lebih lurus menjalankan agama ini sebab keterbatasan ilmu mereka tidak membuat mereka sombong dan sanggup berbuat lebih tulus. Ini hanya wang sinawang. Kita itu ibarat mesin Tuhan dengan jatah baterei masing-masing yang diberi jaring-jaring koneksi untuk dijaga keseimbangannya. Jadi pentingnya saling mengingatkan soal benar dan salah karena pada detik tertentu koneksi kita mengalami ketidakseimbangan sehingga perlu diperbaiki.

Surakarta, 14 Juni 2018

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses