Kita adalah generasi yang tidak memiliki kesadaran waktu karena lebih didominasi alat dan berbagai konstruksi pemikiran yang aneh. Bayangkan ketika belum ada jam digital, kalender, KTP, ijazah, dan segala surat-menyurat aneh seperti sekarang. Tidakkah kita merindukan kehidupan yang wajar bahwa manusia itu bisa menjadi manusia dengan kesadaran waktunya?

Ketika ayam berkokok dan langit menyiratkan garis putih, kita buka hari dengan sujud. Di saat matahari mulai condong ke barat kita jeda untuk bersujud. Tak lama kemudian matahari mulai agak kalem menyapa, saat itu kita diperingatkan untuk mulai istirahat dan pulang, kita bersyukur dan bersujud. Kita habiskan waktu sore dengan berkumpul, diskusi, dan mengagumi-Nya hingga tenggelamnya matahari, lalu kita pun bersujud lagi. Kita terus melihat mega merah yang memudar dan menjadi gelap, saat itulah kita mulai hari berikutnya dengan sujud menjelang kematian sementara kita (tidur). Lalu kita pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Jika kesadaran waktu semacam ini kita bangun kembali, kita akan sadar bahwa hari ini kita sedang hidup di alam kebudayaan lain, bukan kebudayaan manusia. Kita sedang ngekos di sebuah peradaban asing yang tidak seharusnya ditinggali terus-terusan oleh umat Islam. Kita seharusnya memiliki kebudayaan sendiri, tradisi hidup sendiri, dan metode sendiri yang berbeda dengan apa yang lazim hari ini. Tapi semua terlanjur terjadi dan tidak perlu disalahkan. Karena yang sudah ada saat ini tinggal diubah settingannya saja, meskipun mengubah settingan itu susahnya ya memang setengah mati. Yang penting jangan sampai kita justru yang disetting oleh ciptaan manusia.

Kesadaran waktu adalah kesadaran sejatinya manusia bahwa perjalanan ini sangat panjang menuju Allah. Menuju fase Manunggaling Kawula lan Gusti. Entau bagaimana bentuknya, yang jelas semua makhluk-Nya akan kembali ke Penciptanya. Kita hanya dipinjami kesadaran untuk mengerti sedikit tentang kehidupan saat ini. Wis tangi?

Selamat menyambut Senin, hari kedua pekan ini dalam kesadaran waktuku di akhir tahun ini. Sebentar lagi tahun baru, selamat datang bulan Muharram.

Ngawen, 26 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.