Yang saya pahami dari al Quran, para Nabi itu membangun kesadaran kepada manusia untuk mengerti dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Iman adalah konsekuensi logis dari orang yang hatinya terkoneksi kepada Sang Pencipta.

Jika ia beriman, maka akan tumbuh adab. Jika ia punya adab, akalnya akan berpetualang mencari cara merealisasikan adab itu dalam perbuatan, maka ia terus menerus menggali ilmu-Nya. Jadi orang yang ber-Islam itu, salah satu aktivitasnya adalah melakukan proses intelektualisasi untuk dirinya dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Melalui jalan intelektualisasi itulah kita akan terhindar dari jebakan doktrin-doktrin yang bersifat merusak. Memang tidak setiap doktrin itu buruk. Tapi doktrin yang diterima bulat-bulat tanpa proses pencarian secara personal akan melahirkan gerombolan manusia fanatik yang tidak bisa diajak dialog dan berfikir logis untuk kemaslahatan bersama.

Jika mau lapang dada, hari ini umat Islam lebih sering terjebak pada fanatisme doktrinal semacam itu. Entah terlalu mengunggulkan madzhab, ideologi, tokoh pendiri, atau bahkan sosok kiai hingga melebihi kewajaran. Fenomena kegaduhan politik dan perselisihan antar sekte adalah bentuk terluar dari cara beragama kita yang cenderung institusional dan mengarusutamakan formalitas, bukan pada hal-hal riil dan substansial.

Makanya di zaman yang kondisi alamnya semakin rusak ini, perhatian kita pada alam relatif nol protol. Kita akan selalu sibuk dengan hal-hal absurd yang mempertengkarkan kita.

Surakarta, 12 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.