Peristiwa pilpres 2014 adalah pembuka kesadaran saya tentang betapa absurdnya realitas politik Indonesia, bahkan mungkin dunia pada umumnya. Sebuah kondisi di mana pikiran umat manusia secara massal mengalami jungkir balik tidak terkira.

Di situlah saya penasaran untuk membaca lebih banyak referensi sejarah. Sebagai orang yang terdidik dalam pergerakan Islam, saya tentu memiliki semacam impian bagaimana Islam berkuasa menguasai dunia. Sebelum tahun 2014 saya belum begitu bersungguh-sungguh membaca sejarah secara kritis dan multiversi, meskipun sebenarnya sejak kuliah saya mulai menemukan banyak kejanggalan dalam penulisan sejarah.

Kejanggalan itu misalnya seperti ini. Kok penulisan sejarah selalu hanya berbicara tentang raja-raja dan penguasa? Tidak hanya sejarah dunia, sejarah “Islam” pun kebanyakan pasti bicaranya soal kekuasaan, perang, dan penaklukan. Bahkan kebanyakan buku sejarah Nabi Muhammad saja, isinya ya seperti itu. Susah sekali menggali sejarah Nabi Muhammad yang mengisahkan beliau sebagai wajarnya manusia.

Padahal kalau sejauh pemahaman saya terhadap al Quran, Allah mengajari kita cara membangun narasi sejarah yang adil lho. Di al Quran, Allah tidak membeda-bedakan kedudukan manusia apakah dia penguasa atau hanya orang biasa. Jika ia berbuat baik, Allah kisahkan sebagai pelajaran dalam al Quran. Demikian pula jika ia orang jahat, tidak peduli ia penguasa atau orang biasa, Allah tampilkan kisahnya.

Coba kita sedikit bersimulasi, apakah Nabi-Nabi yang dikisahkan dalam al Quran itu pada masa hidupnya njuk berpenampilan seperti Kiai-Kiai dan Habaib seperti sekarang? Jelas tidak. Mereka adalah manusia suci yang menjalani peran kemanusiaan seperti wajarnya manusia. Hanya Daud dan Sulaiman yang punya kedudukan sebagai penguasa. Yusuf bukan raja, tetapi hanya pejabat. Ayub seorang pengusaha dan pernah jatuh miskin parah. Apalagi Isa bin Maryam, lebih ngenes lagi. Al Quran juga mengisahkan tentang Luqman, siapa dia? Orang biasa kan.

Nah, dari pendalaman ini, saya berpendapat bahwa kita saat ini sebenarnya sedang tersesat massal dalam melihat kehidupan. Sehingga hari ini kita takut untuk melihat diri kita sendiri. Kita selalu memilih melihat orang lain, dan memaksa diri kita untuk menjadi orang lain. Untuk menemukan keyakinan sesuatu ini baik itu baik, kita saat ini terlalu tergantung pada figur. Bahkan kita sekarang menuhankan figur-figur itu. Cara kita mengagumi, membela, dan mengikuti sudah tidak menggunakan akal sehat lagi. Kita lupa bahwa kita manusia, mereka juga manusia.

Dan puncak kepekokan itu sekarang dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa politik saat ini. Betapa para calon-calon idola kita adalah Tuhan yang maha benar. Apalagi yang sekarang sedang berkuasa dan dilabeli RI-1, sudah benar-benar dituhankan oleh orang banyak di negeri ini. Jangan mencoba mengkritiknya, bisa dibasmi oleh para jihadis yang loyal padanya. Belum lagi para Kiai, Habaib, dan para rival-rival politiknya yang juga dituhankan oleh para pengikutnya. Jadi sekarang berkelompok-kelompok atas dasar pro dan anti sesuatu sedang menjadi trend. Di situ kita melihat ada problem serius dari dalam diri kita masing-masing, yaitu kita mulai tidak menjadi diri kita sendiri. Tapi kita mulai menjadi sesuatu yang lain.

Karena kita terlalu menuhankan figur, kita mengalami keterhijaban pada sesuatu yang sifatnya nilai. Kebenaran, kejujuran, kemurnian, keikhlasan dan sebagainya susah kita pahami. Karena sekarang apa-apa hanya dilihat secara materil. Kalau seseorang blusukan, dianggap merakyat. Kalau dia khotbah berapi-api tentang pembelaannya terhadap Islam dianggap sudah dekat dengan syurga, sekalipun ceramahnya gampar sana gampar sini menebarkan kebencian. Pokoknya yang berlaku sekarang adalah trend. Dan kebanyakan orang kemruyuk mengrubungi trend, tanpa berpikir lagi. Grudak gruduk ke sana kemari, persis ayam dikasih makanan. Itulah kiranya fenomena buih di lautan.

Coba kita sedikit mundur ke belakang, menyepi di lorong sunyi, mencoba memasuki dunia yang lain dari pada yang kita jumpai sehari-hari. Tak rindukah kita untuk menemui Allah dan Kanjeng Nabi yang sebenarnya selalu hadir dalam kehidupan kita? Jika kita bisa merasakan kehadirannya selalu, niscaya kehidupan kita tidak akan segahar ini. Tapi, kita telah memilih memberhalakan nafsu kita sendiri, memberhalakan orang-orang yang kita cintai dengan fanatik, dan memberhalakan kepentingan-kepentingan yang bukan untuk akhirat. Akhirnya ya kita menanggung kesempitan hidup tiada tara.

Bahkan belum lama ini, kita melihat orang yang mengaku sastrawan bisa-bisanya mencela fisik orang lain yang sama-sama ciptaan Tuhan. Coba pikirkan, bahkan dengan sastra pun dia masih mengalami kehidupan yang semenderita itu, sampai ia mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan seorang sastrawan.

Maka dari itu, saya tidak heran jika Nabi pun pernah berkata bahwa suatu ketika Islam tinggal nama, al Quran tinggal mushafnya, dan masjid tinggal bangunannya. Cobalah tanya para pedagang, jika mereka berjualan dengan label Islam kebanyakan omzetnya akan naik, lihat proyek pembangunan masjid hari ini, dan kata teman saya yang bekerja di penerbitan, al Quran adalah buku yang paling laku sepanjang waktu. Kurang apa lagi?

Surakarta, 19 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.