Persoalan sampah dan kerusakan lingkungan itu seharusnya bikin kita merinding dengan hukuman Tuhan.

Sebab tugas untuk beribadah dan menjadi khalifah di bumi itu bukan dua hal yang berbeda, tetapi realisasi ibadah itu ya menjadi khalifah di muka bumi.

Bukti kekhalifahan kita bisa dari hal terkecil hingga yang terbesar. Dari yang terkecil ya misalnya kita tidak menjadi bagian dari biang kerok kerusakan alam dan kebencian di antara manusia.

Maka, di Ramadhan yang mulia ini. Saya merasa ketakutan melihat diri saya sendiri yang tiap hari lebih banyak nyampahnya ketimbang memberikan solusi untuk ketenteraman bumi. Mungkin kodok-kodok juga sering memaki saya, sebab ketika mengusir dari rumah masih pakai cara-cara yang tidak sopan.

Jadi, ritual-ritual ibadah itu semestinya tidak sekedar menjadi polemik fikih yang membosankan, tetapi harus dimaknai bahwa apa pun ritual yang diajarkan Kanjeng Nabi, ia harus memiliki dampak maslahat secara nyata di kehidupan kita. Karena ritual-ritual ibadah itu alat untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Jangan sampai kita rajin jengkang-jengking tapi tidak tersentuh hatinya melihat sampah dan berbagai kerusakan lingkungan di sekitar kita. Jika sampai seperti itu, tandanya shalat kita tidak ngefek. Apalagi jika rajin shalat, tapi terus memelihara kebencian di hati hanya gara-gara persoalan politik. Itu shalatnya perlu direset ulang.

Surakarta, 19 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.