Di antara tanda demokratisnya pemilu itu kalau nanti KPU menyediakan pilihan “KOSONG” berapa pun kandidatnya. Karena itu bukti kerendahan hati dari negara bahwa tidak semua rakyat yang datang ke TPS itu pasti pro ke salah satu kandidat yang ada, bisa jadi mereka tidak setuju pada semuanya.

Dengan adanya pilihan “KOSONG” itu, maka angka golput bisa diturunkan. Sebab yang golput-golput itu bisa jadi karena memang merasa bahwa kandidat yang nyalon tidak ada yang layak dipilih. Dari pada datang ke TPS dan menghasilkan suara TIDAK SAH, apalagi masih harus antri cukup lama untuk sekedar dapat kertas dan masih dikotori tinta, ya mending cabut sejak pagi dan dolan atau tidur di rumah.

Bagaimana jika yang mendapat suara terbanyak adalah “KOSONG”? Ya para elit politik harus koreksi diri dong. Artinya mereka tidak laku. Sudah tidak zaman dirinya berkampanye atau nyalon dengan cara-cara begitu. Solusinya, perbaiki kualitas pencitraannya atau mundur dan biarkan yang lebih baik untuk tampil ke depan. Jangan kemudian menganggap rakyat apolitisi dengan pemilu dengan banyaknya golput sekarang. Lha kalau memang tidak ada yang layak kan ya buat apa digagas.

Tapi itu hanya omong kosong saya pagi hari ini. Sebab demokrasi yang berjalan sekarang ini bukan demokrasi. Wong politisi itu nyalon kadang modal sendiri je. Kebanyakan cari-cari sponsor dari para pemodal besar. Terkadang pemodalnya justru yang menawar-nawarkan diri jadi sponsor. Pada intinya kandidat yang ikut dalam pesta politik adalah orang yang menggunakan dana entah dari kantongnya atau dari orang lain untuk meraih legitimasi rakyat di kursi kekuasaan.

Kalau sudah berkuasa? Ya sudah, tinggal menikmatinya. Lho bagaimana nasib rakyat? Lha mengapa dipikirkan? Sejak awal kan rakyat kan memang bukan faktor primer dalam kekuasaan. Mereka sudah dikasih uang di awal, tugasnya nyontreng demi legimitasi kekuasaann para politisi ini. Kalau sudah berkuasa ya sudah. Rakyat suruh mrongos merasakan segala penderitaan sampai periode pemilu berikutnya. Begitulah siklus kebodohan yang terus berlangsung di negeri kita ini.

Surakarta, 13 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.