Agami iku ageming aji, bukan alat untuk mengadili orang lain. Pengadilan umum lahir dari adanya kesepakatan antar anggota masyarakat terlebih dahulu sehingga membentuk norma yang dijalankan bersama, berikut konsekuensinya.

Jadi, pada perkara-perkara yang personal dan mahdlah (yang aturannya turun dari Allah langsung), lebih baik dimaksimalkan untuk mengatur diri sendiri agar semakin mapan, bukan untuk mengadili orang lain. Untuk mengadili orang lain, gunakan norma yang disepakati bersama pada hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama.

Di zaman formalitas ini, kita lebih sibuk mengurusi urusan personal orang dengan proporsi yang berlebihan tapi tidak benar-benar serius mengatasi urusan publik yang carut marut. Di zaman khalifah Umar, kita masih bisa mendapatkan kabar bahwa beberapa sahabat berkata, “kalau engkau menyelewengkan amanat wahai Umar, kami akan menegakkanmu dengan pedang!” Amanat apa yang dimaksud? Tentu saja urusan publik atas umat yang sepakat untuk dipimpin Umar, bukan urusan personal Umar.

Bandingkan dengan kita sekarang, sesama umat Islam lebih sibuk saling mengejek pada urusan perbedaan amalan fikih. Tapi begitu longgarnya melihat pengkhianatan kekuasaan, manipulasi ekonomi, hingga perusakan lingkungan oleh industri. Kasarannya, kita lebih gerah kalau lihat tetangga kita tidak shalat dan sibuk mengecap jelek ketimbang melawan pak Lurah yang korup dan suka menyelewengkan amanat. Bukannya menggampangkan shalat ya, tapi shalat itu tetaplah urusan personal orang yang bersangkutan, jadi mentok kita cuma bisa mengajak. Tapi kalau Lurah korup, seberapa nyali kita untuk menjadi seperti sahabat dalam memberikan amaran pada khalifah Umar.

Surakarta, 28 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.