Perseteruan politik yang awet dari 2014 hingga sekarang itu justru mengingatkan saya pada perseteruan abadi Sunni dan Syiah.

Setahu saya, permulaan perseteruan itu sebenarnya berawal dari kepentingan politik pasca kegagalan perdamaian di Perang Siffin. Meskipun seolah-olah damai tapi banyak peristiwa yang mengecewakan bagi umat Islam yang tidak segera dicegah pada masa itu.

Baru di masa Umar bin Abdul Aziz, caci maki terhadap Ali bin Abi Thalib dihapuskan. Tapi luka tetaplah luka. Pengkhianatan terhadap Ali bin Abi Thalib, pembunuhan terhadap Hasan dan Husain tetap menjadi luka bagi umat Islam yang memilih berbaiat pada mereka.

Dari keadaan perkubuan inilah, kemudian oleh para petualang politik ditumbuhsuburkan sehingga menjadi permusuhan abadi. Baik kaum Sunni maupun Syiah, yang memiliki orientasi politik berlebihan pasti akan memilih terus berhadapan dari zaman ke zaman. Kita pernah mendengar kekhalifahan Baghdad berhadapan dengan kekhalifahan Mesir Fatimiyah. Hari ini kita mendengar Saudi Wahabi berhadapan dengan Syiah Iran.

Pertanyaannya, apakah umat Islam akan ikut dalam perseteruan semacam itu. Padahal musuh utama mereka hari ini adalah pemberhalaan materi yang secara obyektif dimainkan oleh kaum kapitalis dengan menjebak umat Islam untuk terus menerus menuhankan uang.

Jadi, lebih relevan jika hari ini kita tinggalkan pelan-pelan perseteruan yang sudah usang itu. Kita bangun konsolidasi bersama umat Islam menghadapi anak cucu kolonialisme yang semakin mencengkeram bumi ini. Perlawanan kita bukan pada institusi pemerintahan atau kubu politik rigid, tetapi pada setiap apa pun yang mengajak kita menyembah berhala materi.

Surakarta, 1 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.