Karena kerja saat ini dimaknai sama dengan golek duit thok, akhirnya semua berlomba jadi pedagang.

Jadi presiden, ndagang. Jadi anggota DPR, ndagang. Jadi apa pun, semua demi ndagang. Akibatnya lapangan kerja yang tidak menghasilkan duit mulai ditinggalkan.

Industri bermunculan, sampah-sampah makin menggila. Setiap orang merasa tidak perlu melakukan kerja penyelamatan sampahnya sendiri-sendiri, sebab itu tidak menghasilkan duit.

Bahkan sekarang beribadah dan menunaikan ritual-ritual keagamaan pun seringnya juga tidak lepas dari meninggalkan sampah. Lalu dengan entengnya kita bilang, itu biar ditangani para petugas sampah.

Padahal kita sangat pelit untuk investasi dan menginisiasi agar sampah tidak mengotori bumi. Jadi, barangkali suatu saat Allah perlu menitipkan firman-Nya lagi kepada langit, gunung, sungai yang tercemar, dan hewan-hewan yang keracunan.

“Kamu itu nerocos baca ayat-ayat-Ku tapi praktike nol protol. Cangkemmu muk preketek.” Misalnya suatu hari kita mendengar kodok bisa bicara dan memisuh-misuhi kita seperti itu sambil menyemprotkan liurnya yang penuh dengan air limbah.

Surakarta, 3 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.