Dalam ilmu matematika, kita mengenal konsep bidang dan ruang. Dari keduanya, kita mengental titik tengah. Konon, titik tengah ini merupakan titik keseimbangannya.

Jika kita melihat adanya ruang atau bidang yang tidak berbatas tepinya, bisakah kita memperkirakan posisi kita agar berada di titik tengahnya, sehingga relatif seimbang dan aman dari goncangan?

Tugas kehidupan yang dititipkan Tuhan kepada kita, menurut saya, bagaimana pun metode yang dipilih adalah menuju titik tengah itu. Itulah titik keseimbangan, ketenangan, dan kesesuaian dengan kehendak-Nya.

Berbagai pertengkaran yang sekarang terjadi, mungkin bisa kita analogikan sebagai tarik menarik antar titik atau kumpulan titik yang tidak berada di pusat keseimbangan itu sendiri. Sebenarnya keduanya bisa saja memilih untuk ditarik ke pusat keseimbangan, tetapi interaksi sesama mereka membuat daya tarik ke pusat mengalami gangguan.

Jika interaksi antar titik sampai pada tahapan saling mengacaukan dan menegasikan, maka di situlah harapan tertarik ke pusat keseimbangan menjadi sangat lama. Sehingga ketika kita sampai ke pusat keseimbangan, keadaan kita sudah tidak seperti awalnya.

Bukankah titik seimbang permulaan manusia itu di syurga. Hendaknya ia kembali ke syurga dengan keadaan terbaiknya. Tetapi ada kalanya, gangguan yang terjadi di antara kita membuat kita akhirnya masuk neraka. Bukankah keduanya sama-sama sebagai titik keseimbangan di akhir yang disediakan oleh Tuhan?

Apa yang hari ini kita lihat berbeda, belum tentu benar-benar berbeda. Sebaliknya, apa yang sekarang kita anggap sama, belum tentu benar-benar sama. Bukankah sudah sering kita lihat dua orang berpenampilan sama, ternyata yang satunya keparat?

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiun, kehidupan bukanlah sebuah garis linear, tetapi sebuah siklus yang memang dikehendak-Nya.

Surakarta, 26 April 2018

Tinggalkan Balasan