Memeluk agama adalah jalan efektif untuk mengenal dan menyembah Tuhan.

Silahkan perdebatkan kebenarannya. Cuma, tidak ada jalan yang lebih efektif berinteraksi dengan Tuhan, selain dengan beragama.

Mencari-cari Tuhan dengan filsafat pikiran maupun dengan perenungan sendiri, tidak mesti efektif mengenalkan pada Tuhan, apalagi bisa menjalankan ritual penyembahannya. Malah kadang bikin gila sendiri.

Meski demikian, orang yang telah memeluk agama pun, belum tentu juga efektif dalam beragama. Sebab terbukti banyak orang beragama tapi bermusuhan satu sama lain, baik yang berbeda agama, atau seagama. Jadi jangan langsung senang meskipun memeluk agama.

Kalau dalam Islam (bagi yang memeluknya, termasuk saya), makanya rukun Islam yang pertama itu bukan membaca 2 kalimat syahadat, tapi menjalankan syahadat seumur hidup (sebab kalimatnya an-tasyhada illaha illallah wa anna muhammadan rasulullah). Maka ini perintah yang sifatnya proses, tidak bisa diklaim secara statis. Ini adalah perintah yang efektif, yaitu menjalani laku syahadat.

Jadi, saya hari ini statusnya baru pemeluk Islam, tapi saya tidak berani mengaku saya sudah menjalankan Islam dengan efektif, apalagi menyebut hidup saya telah Islami. Jadi stempel ke-Islam-an saya sematkanlah setelah saya nanti dikubur. Sekarang silahkan dicap sak karepmu, wong statusku jik “dalam proses” kok. Soal kolom agama di KTP, ya itu urusan administratif saja. Maklum, di zaman ini memang manusia itu diribetkan oleh urusan begituan.

Sehingga kalau ada debat-debat yang sifatnya klasifikasi sana sini, dan pembagian ini itu, lagi-lagi saya lihat efektivitasnya saja. Kalau menurut saya tidak efektif, saya tidak ikut-ikutan. Kalau efektif, baru ikut. Tapi saya tidak lantas mengecap yang berbeda dengan saya melakukan hal tidak efektif, sebab mereka punya ukuran buat mereka sendiri. Saya tidak mau ikut-ikutan memperdebatkan benar salahnya, wong saya sendiri juga masih berproses. Jadi yang bisa saya rasakan ya efektif atau tidak efektifnya saja.

Salah satu hal yang menurut saya saat ini efektif adalah mari kelola sampah rumah tangga masing-masing, mari kendalikan konsumsi, dan sebisa mungkin kurangi ketergantungan pada subsidi-subsidi lembaga pemerintah, agar kita bisa menjadi manusia yang lebih berdaulat. Kalau sudah berdaulat? Ya kalau nanti ada apa-apa terkait gonjang-ganjing kekuasaan, gempa, dll kita tidak mengalami goncangan serius, sebab sudah terbiasa mandiri.

Surakarta, 4 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.