Karena Nabi Muhammad seorang diri sebagai pembawa risalah untuk umat manusia, posisi beliau dalam relasi antar kepentingan berada di titik tengah, bukan berkubu seperti yang tengah menjangkiti kelompok-kelompok umat Islam sekarang.

Mu’jizat beliau adalah al Quran, bukan keajaiban-keajaiban kekuatan instan seperti para Nabi sebelumnya, bahkan ketika beliau diberi kuasa memerintah malaikat penjaga gunung untuk menghancurkan kaum yang telah menganiayanya, beliau urung dan memberi harapan untuk anak cucu mereka.

Saya rasa, narasi kita terhadap Islam yang terlalu lekat dengan kekuasaan kerajaan dari Dinasti Umayah hingga Dinasti Utsmani membuat kita jumud dan terlalu terbawa pada pragmatisme politik kubu-kubuan. Jika kita benar-benar menggali dakwah Rasulullah hingga khalifah empat, kok saya justru lebih merasakan bahwa dakwah mereka lebih pada upaya pembentukan kedaulatan masyarakat atas dominasi kekuasaan materi.

Munculnya masa fitnah adalah ketika penyakit yang telah lama disandang raja-raja Romawi dan Persia mulai menjangkiti umat Islam. Ketika umat Islam tak terkalahkan lagi, lalu dibukakan materi dunia secara melimpah, mereka pun tak sanggup menyangga ujian kemakmuran itu. Akhirnya mereka berebut harta dan kedudukan, memprovokasi para pemimpin dan memperalat masyarakat yang mudah diadu domba untuk saling bertengkar.

Penyakit itu terus berulang, sampai ada ulama yang mengajak umat kembali bertaubat setelah mereka mengalami kejatuhannya. Kehancuran paling parah dalam peradaban manusia adalah era kolonialisme, di mana materialisme ditanamkan sempurna melalui berbagai cara seperti sekularisme, feminisme, dan kapitalisme. Kini kita menyaksikan potret masyarakat global yang begitu acak adut dalam kompetisi yang semakin hari semakin mengerikan.

Maka dari itu, ada baiknya kita cermat dalam membangun keberpihakan. Apalagi terhadap sesama muslim kok bisa saling bertengkar, terlebih jika urusannya pemilu, persaingan bisnis, hingga adu pendapat tokoh yang diidolakan, pasti ada yang salah dengan diri kita. Bahkan isu global terkait Palestina juga bisa menjebak umat Islam jika mereka termakan provokasi zionis.

Salah satu hadits menyebutkan bahwa yang menghancurkan umat Islam bukanlah dari luar, tetapi penyakit-penyakit internal yang berujung pada perpecahan. Jadi sudah jelas sumbernya yaitu nafsu untuk memiliki kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan. Jika umat Islam tidak dapat mengendalikannya maka ia akan menjadi penghancur peradaban. Rasa paling benar dan paling berhak atas semua umat Islam melahirkan perkubuan yang tidak akan pernah dapat disatukan.

Kita perlu kembali mendefinisikan secara jelas apa itu rakyat, umat, masyarakat, masjid, dan Islam itu sendiri. Kalau ada bangunan yang disebut masjid diklaim milik golongan tertentu benarkah masjid itu layak disebut masjid? Kalau ada sekelompok manusia yang tidak mampu mencabut mandat penguasa, layakkah ia menyebut diri sebagai rakyat? Kalau mengaku sama-sama umat Islam kok bertengkar dan bermusuhan, layakkah ia menyebut sebagai ummat (yang memiliki satu ibu susuan) dengan acuan Islam? Benarkah cara kita ber-Islam jika kita tetap rakus, dengki, dan membenci manusia?

Kita hidup di zaman penuh penyakit dan kita pasti sedang sakit. Tapi kita sepertinya masih lebih suka mengejek tetangga kita yang sakit dan membiarkan sakit kita semakin parah.

Surakarta, 25 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.