Controporation bukanlah istilah atau sesuatu yang bermakna karena pasti tidak akan Anda temukan di kamus manapun. Itu hanya pilihan kata tanpa makna yang saya ambil dari pemendekan paksa atas country-corporation, sebuah gabungan kata untuk menjelaskan bentuk negara yang berperan seperti perusahaan bisnis.

Inspirasi ini berawal dari nasib pengungsi muslim Rohingya yang terkatung-katung di laut karena ditolak oleh negara-negara ASEAN yang ada di jalur pelarian diri mereka dari negara asal untuk menyelamatkan diri dari penindasan akibat perilaku beberapa biksu Buddha radikal yang menebarkan api permusuhan terhadap Islam.

Thailand, Malaysia, dan negara kita Republik Indonesia seolah tak mau ambil bagian menjadi dewa penyelamat untuk mereka yang teraniaya itu, meski akhirnya dengan setengah hati menerima. Masak sih tidak malu dengan Turki yang jauh-jauh datang dari Eropa membawa angkatan lautnya, juga masyarakat Aceh yang sudah berinisiatif lebih awal untuk menyelamatkan para korban kebiadaban rezim yang tak bertanggung jawab itu.

Sementara itu, kita juga sudah membaca berita dan menonton siaran di televisi bagaimana perjuangan TNI dan tim gabungan dari beberapa negara yang bergerak untuk mencari para korban kecelakaan pesawat Air Asia. Peristiwa nahas seperti itu tentu saja memberi kemungkinan kecil bagi para penumpang untuk tetap hidup. Maka yang dilakukan para tim gabungan dengan dana besar itu hanyalah proses evakuasi agar keluarga para korban dapat memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah keluarga mereka.

Dua hal ini kontradiktif. Dengan segala kekurangan pemahaman saya, saya tidak bisa menerima bagaimana bisa orang-orang yang jelas sudah mati lebih diprioritaskan dari pada orang-orang yang berjuang untuk hidup akibat salah urus dan tidak tanggung jawabnya negara terhadap mereka. Saya tidak bisa menerima hal ini, maka muncullah rasa penasaran, jangan-jangan pengertian negara yang saya pahami selama ini berbeda dengan negara pada praktiknya kini.

NKRI Sebuah Negara?

Pada bulan Januari 2015, di forum rutin masyarakat maiyah Jakarta, Kenduri Cinta seperti biasa Cak Nun hadir menemani masyarakat di sana. Di forum awal, para jamaah menyampaikan keluh kesah mereka melihat Indonesia yang semakin tidak jelas ini. Satu persatu menguraikan masalah yang berhasil mereka kenali sesuai latar belakang keilmuan dan cara pandang mereka masing-masing. Mulai dari masalah kepemimpinan yang tidak jelas hingga masalah utang luar negeri yang terus menumpuk.

Masalah semakin terlihat mengerikan saat Pak Abdullah Hemahua memaparkan kondisi utang luar negeri Indonesia yang sudah lebih dari 1500 triliun dari tinggalan Presiden SBY. Tak lupa beliau juga memaparkan betapa gilanya korupsi di negeri ini yang berhasil diungkap KPK sejak lembaga adhoc yang berfungsi melawan korupsi itu didirikan. Jika dipahami dengan pola pikir yang sangat linier, seolah nasib negeri ini benar-benar di ujung tanduk. Entahlah.

Di tengah suasana putus asa itu, Cak Nun memberikan cara pandang lain, dengan melontarkan pertanyaan, “Negaramu ini (NKRI) negara tenanan po dudu?”. Spontan salah satu jamaah maiyah menyahut, “Not even corporation”. Cak Nun pun mengulangi jawaban jamaah tadi, “Dadi negaramu iki dudu negara, perusahaan we yo durung, lagi anak perusahaan. Ini anak perusahaan, PT Amerika Serikat cabang Indonesia di bawah koordinasi Singapura dengan kavalerinya Israel dan Saudi, di bawah undang-undang Bank Dunia.”

Cak Nun melanjutkan, “Jadi jelas kan masalahnya. Makanya kamu ya jangan sedih-sedih banget memikirkan Indonesia, lha wong jelas bukan negara mau kamu apakan lagi. Yang namanya anak perusahaan ya mau kamu apakan sekarang coba.” Hadirin pun tertawa tergelak dengan apa yang baru saja dilontarkan beliau. Ini jawaban telak sekaligus butuh perenungan mendalam.

Beliau lalu melanjutkan lagi, “Tapi saya bahagia malam ini karena melihat manusia-manusia Indonesia baru yang lahir. Allah tidak perlu menghancurkan bangsa ini untuk digantikan dengan kaum yang baru yang lebih baik. Di tengah suasana kehancuran luar biasa ini, saya melihat harapan dengan lahirnya manusia-manusia baru Indonesia. Kalianlah nanti yang akan menjadi pemimpin masa depan yang memperbaiki Indonesia. Namun semua harus dijalani dengan sabar. Bahwa Indonesia mungkin baru akan membaik 50 tahun lagi atau malah lebih lama lagi ya wajar wong komplikasi penyakitnya sudah sangat sangat parah seperti hari ini.”

“Bahkan dijalani sampai berpuluh-puluh tahun lagi kok ya tetap nggak baik-baik, ya kita sudah terbiasa kan menderita. Teknologi mental bangsa ini sudah sangat canggih sehingga setiap penderitaan berakhir menjadi bahan tertawaan kita bersama.” Hadirin pun kembali tertawa. Demikianlah sebuah jawaban yang sepertinya seperti lawakan, tetapi Anda bisa renungkan bagaimana negara kita saat ini. Jadi apa kesimpulan Anda, apakah NKRI ini negara beneran?

Negara: Lembaga Nirlaba Raksasa

Ingatan saya berlanjut ke buku kumpulan esai Pak Erie Sudewo (pendiri Dompet Dhuafa) di harian Republika yang dibukukan dalam judul yang sangat satir, KERESAHAN PEMULUNG ZAKAT. Di salah satu tulisannya, beliau membuat definisi bahwa negara adalah lembaga nirlaba raksasa yang bertanggung jawab mengelola aset yang diamanahkan kepadanya dan mengurus rakyat yang tinggal di wilayah yang dikelolanya agar sejahtera.

Jadi secara simulasi, negara itu adalah lembaga sosial yang selayaknya tidak mengambil untung. Karena itu amanah Tuhan lewat rakyat yang memberikan mandat kepada negara. Maka penyelenggara negara adalah pihak yang bertanggung jawab atas berfungsi tidaknya negara sesuai dengan prinsip dasar tadi. Maka menjadi pimpinan negara itu adalah tugas berat yang jika dipikirkan dengan normal, seharusnya orang berebut tidak mau karena mengingat besarnya tanggung jawab dan beratnya beban amanah tersebut.

Jika penyelenggara NKRI dibagi menjadi tiga kelompok besar, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif maka ketiganya adalah representasi dari pengurus yayasan sosial. Ada yang bertugas menyalurkan aspirasi dan melakukan pengawasan terhadap kepastian pemenuhan aspirasi tersebut. Ada yang bertugas membuat kebijakan dan menerapkan pengelolaan berdasarkan aspirasi yang disampailan. Ada yang bertugas menjadi penengah dan menangani sengketa-sengketa yang mungkin terjadi. Sebenarnya sistem ini sudah cukup baik jika benar-benar dijalankan dengan baik.

Kembali ke definisi negara sebagai lembaga sosial raksasa. Maka di sini tidak berlaku sistem untung rugi seperti bisnis. Para penyelenggaranya pun bukan pebisnis dan jangan sekali-kali berbisnis. Maka menurut logika bodoh saya, di sistem lembaga sosial ini semakin tinggi jabatan penyelenggara negara semakin takut dengan duit dan hal-hal yang berbau kesejahteraan. Karena kesejahteraan harusnya dimulai dari yang paling bawah, yakni pengentasan kemiskinan dan kebodohan.

Tapi kenyataannya bagaimana saat ini? Silahkan disimpulkan sendiri ya. Saya tidak sanggup mengungkapkannya. Jika Anda bisa menjelaskan ini, Anda pasti juga bisa menyimpulkan, NKRI ini memang bukan lembaga sosial kan. NKRI ini lebih mirip dengan anak perusahaan seperti apa yang dikelakarkan Cak Nun to?

Negara Rasa Perusahaan

Dari dua kumpulan gagasan tersebut, saya membuat sebuah telaah bahwa negara-negara di dunia saat ini, termasuk Indonesia membangun trend sebagai negara bercitarasa perusahaan. Sistem ekonomi kapitalis dan pemerintahan yang dinamai “demokrasi” yang seolah menjadi satu-satunya ajaran suci terus menggelora mencengkeram dunia saat ini. Tidak bisa dipungkiri kompetisi antar negara dalam meraih predikat sebagai superhero menjadi salah satu pemicunya.

Sayangnya tidak setiap negara berhasil melalukan bisnis itu dengan baik. Ada yang menjadi korban dari negara lain karena mereka memiliki kecanggihan berbisnis dan kadang sekaligus mencurangi kompetitornya. Praktek kecurangan berbisnis ini saat ini dapat dilihat dari praktek negara-negara Barat dalam menyelenggarakan bisnis dengan negara lainnya, terutama di Asia dan Afrika. Dan di antara negara-negara itu, Amerika Serikat adalah biang keroknya. Itu adalah negara-perusahaan paling jahat dan paling nggak jelas dalam berbisnis karena dia suka bikin aturan sendiri dan sewenang-wenang.

Di antara layanan bisnis yang dijalankan adalah bisnis simpan pinjam (baca: utang luar negeri) dengan aturan-aturan yang aneh. Pertama dari sisi nilai tukar mata uangnya, negara-negara di Asia dan Afrika nilai tukarnya relatif lebih rendah. Ini curang nggak menurutmu? Kalau menurutku curang. Yang kedua cara membayarnya adalah cadangan devisa. Agar negara-negara tadi memiliki cadangan devisa mereka harus menjual sumber daya alamnya. Cara menjualnya pun aneh, yakni para pemberi pinjaman menancapkan perusahaan-perusahaan mereka untuk mengeksploitasi langsung. Ini curang nggak menurutmu? Menurutku sih curang. Dan saya akan bilang, KEPARAT.

Setidaknya, cara bisnis ini membuat negara-perusahaan yang dikategorikan negara modern terus meraup keuntungan besar dan mereka menjalankan negara-perusahaan itu secara profesional. Artinya rakyat yang diposisikan sebagai faktor produksi diperlakukan layak dengan gaji dan jaminan kesejahteraan hidup yang cukup. Tapi yang namanya faktor produksi alias buruh negara, saya punya penilaian bahwa kehidupan mereka relatif serius dan seperti robot karena mereka dikendalikan oleh sistem negara-perusahaan tersebut.

Berbeda dengan negara-perusahaan yang dicurangi seperti Indonesia ini. Di negeri kita, kita bisa mengimajinasikan NKRI sebagai sebuah perusahaan yang sangat ambisius dalam mengeruk keuntungan. Sebagaimana negara-perusahaan lainnya, rakyat difungsikan sebagai faktor produksi. Bedanya di sini tidak ada jaminan kesejahteraan, karena para manajer dan CEO-nya benar-benar ingin menjadi miliarder meskipun akhirnya mereka selalu kalah kaya dengan para CEO perusahaan swasta.

Mengapa? Karena cara mengeruk keuntungannya dengan bisnis berlapis. Artinya di dalam bisnis negara-perusahaan NKRI atau katanya Cak Nun PT. Amerika Serikat cabang Indonesia ini, para CEO dan manajernya pun masih membuat bisnis di dalam lagi. Dalam berbisnis antar pelaku pengelola ini, mereka masih menerapkan cara curang dengan mencuri. Maka rakyat Indonesia ini memang sangat sial, mereka dicurangi juragan mereka (karena saat ini kita berbicara Indonesia dalam perspektif sebuah perusahaan), dan PT NKRI ini pun masih dicurangi rame-rame negara-perusahaan lainnya. Maka bisa dibayangkan betapa sialnya menjadi rakyat Indonesia yah!

Ironi Bangsa Tertawa

Anehnya, saya tidak habis pikir dengan kecurangan yang sudah sedemikian sadis dan jangan bertanya lagi betapa penindasan psikologis yang kejam ini menerpa, kok kita tetap tertawa dan sebagian besar merasa tidak pernah punya masalah.

Saya berpikir lagi, ini karena kita memang bangsa yang sangat berdaulat atau memang kita sedang sakit jiwa. Karena keduanya itu beda tipis. Jika kita adalah golongan pertama, berarti kita memang manusia plus-plus. Karena kita tidak terikat dengan sistem negara-perusahaan itu, kita justru setiap hari sedekah kepada mereka dengan kesaktian kita yang ditindas dan menderita tetapi kita tetap gembira. Tapi jika kita ternyata justru termasuk golongan yang kedua, ini sakit jiwa jenis apa, wong susah kok tetap tertawa, dan tetap bahagia.

Saya masih berbaik sangka bahwa kita adalah bangsa yang sangat berdaulat. Kedaulatan kita terletak pada kepribadian kita yang sangat eksklusif. Keeksklusifan kita tidak bisa dipahami oleh siapa pun, termasuk oleh diri kita sendiri. Sehingga kita pun juga tidak tahu bedanya antara menderita dan bahagia. Kita juga tidak tahu bedanya antara papa dan sejahtera. Maka kita adalah manusia laku yang tidak membutuhkan teori untuk hidup dan berbuat karena Allah sudah langsung men-setup kita menjadi seperti ini.

Maka bagi bangsa yang selalu tertawa, sial akan menjadi bahan tertawaan untuk saling mengolok-olok, sialan lu! Dan demikianlah kita menghibur diri, terkadang tertawa bersama, terkadang berantem, terkadang saling membunuh. Karena mau berlibur ke pantai tidak ada ongkos. Mau ke gedung bioskop tidak ada duit untuk membeli tiket.

Sungguh, saya berhenti untuk memikirkan realita bangsa tertawa ini, karena saya takut menjadi gila sendiri. Bangsa ini terlalu susah untuk didefinisikan. Dan saya pastikan definisi-definisi orang Barat tentang Indonesia pasti salah semua. Tetapi ironinya adalah banyak juga orang Indonesia percaya dengan definisi mereka dan kemudian mempengaruhi temannya agar percaya dengan definisi tersebut. Aneh kan!

Demikianlah kita bangsa yang aneh, karena kita selalu memilih bertanya kepada mereka dari pada bertanya pada diri kita sendiri. Mungkin karena kita bangsa pelaku sehingga berpikir adalah hal yang lebih rendah. Ilmu laku setingkat lebih tinggi dari berpikir, kata saya. Hehehe

Jadi Mau Gimana Kita?

Akhirnya saya akhiri saja paparan yang sangat tidak ilmiah lagi tidak jelas ini. Saya hanya ingin bilang, kita sekarang sedang tinggal di wilayah negara yang sedang menjadi perusahaan. Berarti mari sadari konsekuensinya.

Di dalam negara-perusahaan, subsidi adalah inefisiensi. Maka antisipasilah dengan hidup irit ya. Di dalam negara-perusahaan, menerima pengungsi adalah pemborosan. Maka mari kita ubet sendiri untuk menampung saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan, seperti yang saat ini tengah dihadapi kaum muslim Rohingya.

Di dalam negara-perusahaan memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar akan menurunkan profit yang berakibat menurunnya income para CEO dan berkurangnya jatah yang harus dicuri. Maka mari saling berbagi satu sama lain agar kita tetap hidup sebagai “karyawan” yang dipaksakan ini.

Di dalam negara-perusahaan, keadilan sosial dan kesejahteraan umum adalah strategi periklanan yang jitu. Maka jika sebagai “karyawan” kita tidak sejahtera wajar kan, karena iklan tidak harus sama persis dengan kenyataan. Bahkan iklan harus terlihat sempurna melebihi kenyataannya. Bahkan bila perlu 100 % palsu, karena yang penting orang percaya dahulu.

Di dalam negara-perusahaan, hukum akan terus dibuat dan nilai moral ditinggalkan. Karena pertimbangan moral akan sangat menggangu setiap upaya dalam menggenjot profit. Yang dibutuhkan aturan yang tegas kepada “karyawan” agar mereka berdisiplin dalam bekerja sesuai dengan apa yang dicanangkan CEO lewat para manajer. Maka menikmati kesengsaraan adalah bagian dari latihan yang sangat menyehatkan bukan. Bertemankan sengsara penting untuk dilatih.

Jadi, Anda mau berputus asa? Ekonomi Dajjal telah mencengkeram dunia, dan negara telah berubah menjadi perusahaan-perusahaan yang saling berkompetisi satu sama lain. Maka tidak ada pilihan lain kecuali kita melawan setan yang sangat besar ini. Mari berjuang untuk membeli kembali saham PT Amerika Serikat cabang Indonesia ini, lalu kita konversi menjadi Yayasan Sosial Peduli Nusantara. Karena kita sedang membutuhkan yayasan sosial, bukan perseroan terbatas.

Apakah kita takut? Jika takut karena kesepian, ada Allah selalu menemani kita. Itulah maiyah sejati, itulah kebersamaan yang sesungguhnya. Sudah itu saja.

Surakarta, 23 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.