Para penguasa yang tidak mengenal Jamaluddin al Afghaniy sering mencoba membujuk beliau agar tidak garang dengan tawaran emas berkilat-kilat, putri jelita, hingga kedudukan tinggi di istana. Bukannya persetujuan yang diperoleh para utusan raja itu, melainkan kemarahan luar biasa yang membuat mereka lari terbirit-birit demi segera menghadap tuannya dan melaporkan kegagalannya.

Di masa hidupnya, hanya kerajaan Inggris yang paling pandai bersiasat, yaitu memberi suaka sekalipun pada musuh yang paling dibencinya. Jamaluddin adalah permata zamannya yang paling terang-terangan menguliti siasat licik Inggris dalam menguasai negeri-negeri Islam. Tapi seruannya di tengah umat Islam terhalang oleh para penguasa muslim yang lebih suka hidup mewah dari pajak rakyat dan tuduhan keji para ulama istana yang berkhidmat pada penguasa.

Beruntung, Sultan Turki menjadi satu-satunya penguasa dunia Islam yang tahu harga diri sehingga membuat kesepakatan secara jantan dengan Jamaluddin untuk saling membela dan tidak saling berpisah sampai mati. Jamaluddin pun wafat di negeri Islam, tak jadi dimanfaatkan oleh Inggris. Sultan Abdul Hamid pun digulingkan karena tidak disukai para punggawanya, gara-gara ia tetap memelihara sang “Singa Zaman” itu di negerinya.

Demikianlah keunikan Jamaluddin. Di mata para ulama resmi istana pada zamannya, ia sangat menakutkan karena bisa menggoyahkan kedudukan mereka di mata penguasa dan rakyat. Di sisi lain, pemikirannya yang melewati zaman dalam membaca bahaya kolonialisme Eropa yang mengancam dunia Islam, melahirkan demokratisasi di tengah masyarakat yang pada taraf berlebihan justru dimanfaatkan para penjajah untuk mengompori pemberontakan kepada para penguasa muslim yang menindas.

Kini telah lebih dari 150 tahun lalu beliau membangunkan dunia Islam. Beliau menggariskan sebuah persatuan umat Islam. Tidak harus muluk-muluk memimpikan khilafah di mana satu penguasa sekaligus imam diikuti seluruh penjuru dunia Islam. Yang penting adalah setiap negeri bersetia pada cita-cita tegaknya keadilan dan persaudaraan. Biarlah setiap wilayah memiliki penguasanya sendiri, asalnya semuanya membuat perjanjian yang adil dan saling membela.

Hingga hari ini, beliau pasti tetap kontroversial. Beliau yang bisa membuat umat Islam di dunia bangkit melawan kolonialisme dan segala penyakit yang dibawanya. Beliau yang membuka mata bahwa permusuhan antar madzhab dan sektarian jauh lebih menghancurkan dunia Islam. Beliau yang membukakan mata bahwa kekuasaan yang tak terbatas dari penguasa serta ulama yang menghamba penguasa lah yang mempercepat keruntuhan negeri-negeri Islam. Dengan perantaraan beliaulah, kaum Sunni dan Syiah memiliki kesadaran bersama untuk melawan kekuatan Barat yang ganas itu.

Kini jasad beliau telah terkubur. Namanya tak lagi harum di mata generasi hari ini. Kisah beliau berdiri tegak tanpa takut di hadapan para raja tak lagi terdengar. Bagaimana beliau berbicara dengan tegas kepada Sultan Turki, Syah Iran, Khadive Mesir, Ratu Inggris, Tsar Rusia, tanpa penuh basa-basi. Beliau disegani para raja besar itu, meski pakaian beliau tetap seperti rakyat biasa. Beliau pasti tidak disukai para politisi oportunis, tapi beliau amat dicintai rakyat di semua negeri yang disinggahinya. Karena beliau hormat dan memperlakukan rakyat dengan kasih sayang. Ia kecewa dengan penguasa negerinya yang berkhianat pada rakyat, ia kembarai dunia Islam agar tak bernasib seperti Afghanistan yang kemudian dicengkeram Inggris.

Apakah tidak ada penerus beliau lagi? Pasti ada. Coba kita temukan di negeri ini, siapa yang mewarisi jiwa besar beliau. Tegak terhadap penguasa tetapi tak berarti melawan. Tegas mengkritik penguasa, tapi mengajak rakyat mencintai negerinya. Yang seluruh hidupnya diwakafkan untuk mencerdaskan umat dari kebodohan dan pertengkaran sesama mereka. Bisakah kita mengerti perjuangannya yang telah bertahun-tahun dibangunnya ini. Namun tetap saja, banyak yang memilih untuk tetap menjadi bodoh dan sekedar menjadi pemujanya, hingga memberhalakannya. Beliau tetaplah manusia biasa, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, yang punya batas masa usianya. Sebelum tiada, jangan sia-siakan kesempatan untuk belajar ilmu hidup dari beliau. Tiada gunanya cerdas pikiran, jika selama hidup kita tak paham martabat sebagai umat Muhammad.

Carilah sang penerus Jamaluddin ini, sebelum kita menjadi kaum yang sangat hina baik di dunia, terlebih di hadapan Allah.

Gondangsari, 9 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.