Pasca peristiwa Pilpres 2014 yang menurut saya banyak kejanggalannya, saya mulai belajar sungguh-sungguh tentang kehidupan para Nabi, terutama Nabi Muhammad.

Saya mulai mempertanyakan kembali berbagai hal, terkait politik yang selama ini terlanjur jadi mainstream pikiran publik. Hari ini, apa-apa bisa ditautkan secara politik. Bukan karena itu perkara politik, tapi cara kita berpikir sudah politis sejak bangun tidur.

Kesimpulan saya sementara, ajaran Islam itu mengutamakan akal sehat. Salah satu konsekuensi akal sehat adalah manusia tidak mungkin mau menghamba kepada sesama manusia lainnya. Konsekuensi sosialnya adalah dalam hal pemikiran dan pemecahan masalah yang berlaku adalah sikap egaliter. Semua berhak berpendapat dan mempertanggungjawabkan pendapatnya. Maka Islam sangat menekankan musyawarah.

Hierarki penghormatan murid pada guru, anak pada orang tua, adalah karena adab, sebab guru dan orang tua juga tetap bisa berbuat salah. Jadi mendebat pendapat guru dan orang tua itu boleh saja, asal tahu adabnya. Makanya pendidikan manusia yang utama itu bukan soal pengetahuan, tapi soal adab. Adab itu bukan mekanisme, tapi semacam rasa dalam hati yang membuat seseorang memiliki kepekaan untuk atau tiidak melakukan sesuatu berdasarkan keyakinannya pada Tuhan. Seorang yang beradab, tidak akan mencuri milik orang lain, meskipun belum mengetahui dalil larangan mencuri dalam al Quran, sebab hatinya sudah mencegah hal itu.

Dengan akal sehat itu, seharusnya model-model kekuasaan yang terlalu dominan entah dalam wujud kerajaan, imperium, dll tidak akan ada seperti sekarang. Sebab pada dasarnya manusia yang berakal itu tidak akan sudi diatur-atur orang lain dan dirinya sendiri juga tidak akan banyak mengatur-ngatur orang lain. Orang yang beriman pada Tuhan, lebih fokus menata dirinya agar bermanfaat hidupnya dan tidak merugikan orang lain. Contoh nyata dari manusia-manusia ini adalah para ulama. Meskipun para Sultan bertahta dari masa ke masa, apakah para ulama bersedia berada di ketiak para penguasa itu? Tidak. Tapi apakah para ulama juga memberontak? Tidak juga. Mereka oposisi loyal. Berani mengingatkan para penguasa sendirian, walaupun para penguasa memiliki istana megah dengan ribuan tentara.

Dari pemahaman itu, saya menyimpulkan bahwa jihad kaum muslimin itu sebenarnya bukan terletak pada perangnya. Perang adalah bahasa sosial yang berlaku pada bangsa Arab kala itu dan umumnya peradaban lain di dunia. Jadi perang adalah keniscayaan. Yang menjadi nilai lebih adalah Nabi Muhammad merevolusi cara perang melalui berbagai keteladanan sehingga siapa pun yang berperang terhadap kaum muslimin, akan merasakan kebaikannya karena dijamin kehormatannya dan mati dengan penuh kebanggaan karena telah bertemu dengan ksatria yang menghormati martabat lawannya. Jihad umat Islam adalah membentuk pribadi yang sungguh-sungguh, sehingga tidak takut menghadapi perang sekalipun, tapi juga tidak membiarkan diri berperang karena kemarahan dan kebencian. Perang dengan akal sehat, yaitu ketika kesepakatan sosial tidak dapat dicapai melalui diplomasi, maka adu tanding diperlukan.

Manusia itu merindukan kepemimpinan, bukan kekuasaaan. Tapi kita terlanjur tidak mampu membedakan kepemimpinan dengan kekuasaan. Lalu banyak kampanye tentang kepemimpinan padahal sesungguhnya adalah kekuasaan. Kita percaya mereka akan memimpin kita, padahal kebanyakan mereka hanya berminat menguasai kita, bahkan menindas dan merampok kita.

Surakarta, 30 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.