Kita mengalami krisis makna. Dan yang sedang dialami umat Islam hari ini adalah krisis pemaknaan atas al Quran. Saya sendiri merasa terbuka wawasannya tentang itu atas jasa salah seorang sahabat dan guru yang menghadiahi kami kamus kata-kata al Quran yang mengkodifikasi kata-kata dalam al Quran berdasarkan akar katanya.

Bahasa Arab itu memiliki akar kata untuk setiap kata-kata bentukannya. Misalnya ‘ain-lam-mim bisa membentuk kata ‘alam, ‘ilmu, ‘alamat, ‘alim, ‘ulama, dll. Saya mencoba mengaitkan konsep itu dengan apa yang diistilahkan sistem makna al Quran yang diasaskan oleh Syaikh Dr. Fazlurrahman Anshari dari Pakistan. Jika umat Islam mempelajari al Quran dengan pendekatan sistem makna ini, niscaya kita akan lebih banyak mendapatkan manfaat dari sebuah tadabbur al Quran untuk proses-proses rekonstruksi kehidupan masyarakat.

Dengan kembalinya kita pada sistem makna, maka kita telah memulai ijtihad untuk tidak terseret pada arus bahasa zaman now yang begitu porak-poranda pemaknaannya. Berawal dari bahasa, semua hal di dunia ini dikendalikan. Bukankah ketertindasan ekonomi yang dialami umat Islam hari ini adalah akibat ketidakpahaman umat Islam secara massal terhadap istilah RIBA dan konsep WALAA TANSA NASIBAKA MINAD DUNYA.

Hari ini semua orang sibuk bagaimana mengumpulkan materi dan bertarung satu sama lain. Para tokoh agama pun hanya fokus membahas urusan fikih secara formal tetapi mengabaikan bagaimana umat memahami bahasa. Padahal para ulama zaman dahulu, ketika memulai dakwah Islam yang mereka kuasai dulu adalah bahasa. Mereka memasukkan nilai-nilai Islam lewat bahasa lokal masyarakat agar sejalan dengan bahasa al Quran. Setidaknya kita bisa melihat bagaimana bahasa Melayu dikembangkan dari Melayu kuna menjadi Melayu Islam seperti yang kita kenal kemudian, serta bahasa Jawa pada era para pujangga keraton pasca Mataram, mereka begitu antusias melakukan kerja-kerja bahasa untuk mendidik masyarakat lewat karya-karya mereka.

Melihat situasi itu, saya kadang mikir bagaimana membumikan makna pada generasi zaman now. Ini zaman di mana orang dituntut untuk pintar, meskipun amoral. Ini zaman di mana orang yang penting punya materi, meskipun caranya nggasak sana sini. Ini zaman di mana yang penting orang tampak beragama dan secara formal menjalankan syariat menurut bendera-bendera madzhab dan ormas, sekalipun dalamannya entah sampai pada keyakinan pada-Nya atau tidak.

Di zaman ini, bahasa adalah alat yang paling efektif untuk menguasai manusia. Dari bahasa dan kata-kata itulah, dunia hari ini dikendalikan dengan mudah. Bahkan bila perlu, dengan membajak al Quran untuk dijadikan alat meyakinkan umat demi mewujudkan kepentingan-kepentingan golongannya sendiri.

Gondangsari, 30 November 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.