Mau percaya soal teori konspirasi atau tidak, itu tidak masalah. Tapi kalau tidak percaya bahwa kekacauan sistemik kita berangkat dari penuhanan materi dan pemusatan kapital, ya kebangeten?

Ketika penuhanan materi menjadi iman mayoritas orang seluruh dunia, maka terjadilah pemusatan kapital. Langkahnya sederhana saja, setiap orang yang menuhankan materi, akan berambisi untuk kaya sekaya-kayanya. Lalu mereka akan bersaing dan berebut sampai salah satu menang dan lainnya kalah. Tentu dengan menghalalkan segala cara.

Kompetisi bisa berangkat dari individu-individu miskin, namun ambisius untuk menumpuk kekayaan sesuai imannya sendiri, tidak peduli agama formal KTP-nya apa. Mereka bekerja siang malam untuk memuaskan pencapaian itu. Lalu kini menjelmalah menjadi raksasa global yang menyeramkan. Terjadilah perang antar negara, kolonialisme, hingga penghisapan-penghisapan yang dilegalkan seperti sekarang.

Tapi apa berarti kita kehilangan manusia yang hidupnya wajar? Tidak. Jumlah mereka masih banyak. Mereka sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol dan ketemuan bareng. Kalau kita hari ini menikmati hidup ya hidup itu nikmat-nikmat saja kok. Tapi kalau hari ini kita juga ambisius ya akan masuk perangkap itu. Kan kalau kita yakin Tuhan maha memberi rezeki ya tinggal fokus pada pengabdian hidup.

Jadi penulis, ya rajin menulis dan terus mengasah kemampuan menulis. Jadi tukang parkir, ya berdedikasi dalam melayani para pelanggan. Jadi guru, ya berdedikasi dengan menghadirkan nilai-nilai keteladanan bagi muridnya. Dan sudah pasti to, pendapatan uangnya jelas beda-beda satu sama lain. Yang penting cukup kan untuk biaya hidup. Ra usah absurd kakehan cita-cita pengin dadi raja. Modar dewe mengko.

Kenapa sekarang kok rasanya do berebut pasar sampai direwangi bertengkar satu sama lain. Ya mungkin kita memang telah musyrik, ngakunya sih Allah tuhan kita, tapi asline duit sing utama. Hahaha.

Juwiring, 7 November 2017

Tinggalkan Balasan